Senyawa - Alkisah (Disaster Records)


Duo musisi garda depan dari Yogyakarta ini keluar dari comfort zonenya dengan meninggalkan bambu wukir, instrumen custom yang telah mendefinisikan sound Senyawa setelah 10 tahun. Di album 'Alkisah’ ini, tidak ada satu lagu pun yang menggunakan instrumen bambu wukir yang biasa dimainkan Wukir Suryadi. Eksplorasi sonik yang ditawarkan duo Rully Shabara dan Wukir Suryadi akan mengajakmu untuk berpetualang ke teritori-teritori yang jarang kita kunjungi. Dengan instrumen bambu yang baru, kali ini Wukir menawarkan tone-tone strings yang unik dan suara perkusi yang lebih fresh. Concept album ini secara naratif bercerita mengenai hancurnya sebuah bangsa. Imajinasi apokaliptik ini dibuka dengan track minimalis berdurasi 40 detik yang berjudul ‘Kekuasaan’ dengan lirik introspektif “Apa arti kuasa bila akhir sudah diujung mata?”. Pada single ‘Istana’, suara Rully ditemani oleh bisingnya distorsi yang droning. Track penutup ‘Kiamat’ adalah sajian genderang perkusi tribal yang bertemu chant-chant shamanic, dan Senyawa pun terdengar seperti dukun industrial yang menyambut hari akhir. Ketika Sunn o))) dan Attila Csihar menggunakan desibel yang lebih keras, Senyawa justru menemukan dinamisme keras-pelan yang lebih bernuansa magis. Senyawa merilis ‘Alkisah’ melalui 44 record label di seluruh dunia, dengan packaging dan bonus remix yang berbeda dari setiap label. Pada rilisan versi Disaster ini, versi remixnya dikerjakan oleh Audioscum, Xin Lie, Dark Torrent dan Bagvs, yang meredefinisikan 4 lagu Senyawa. Kover art yang dibuat oleh Vidi Nurhadi disini sangat menarik, semakin membuat rilisan versi Disaster ini wajib dikoleksi. Get this one before it runs out.



Taruk - Bara Dalam Lebam (Grimloc)


Band hardcore punk/metal asal Bandung ini mempersembahkan 10 track dalam album perdananya ‘Bara Dalam Lebam’. Dibandingkan  dengan EP mereka sebelumnya yang berjudul ‘Sumpal’, karya-karya baru mereka terasa lebih solid, tight dan matang. Meleburnya agresi hardcore punk dan riff-riff black metal membuat track ‘Mencekam’ yang dipenuhi drumming blast beat ini menjadi lebih atmosferik. Taruk bereksperimen diluar sound hardcore punk generik, dan mengimplementasikan sound violin, beat-beat post-punk dan riff-riff metal klasik. Untuk penggemar Baptist, From Ashes Rise atau bahkan Entombed, album ini sudah pasti akan menjadi high-rotation baru kamu. Sepuluh track yang yang dimainkan dan direkam oleh Karel (vokal), Bobby (gitar), M. Zulyadri Boy (bass) dan Matin Mahran (drum) di album ini adalah all killer no filler. Dimastering dengan sangat baik oleh Edo Jatmika, dan seperti layaknya rilisan Grimloc lainnya, departemen artwork selalu mendapat perhatian khusus. Kali ini dengan ilustrasi kover dari Morrgth dan desain grafis oleh Herry Sutresna.



Sieve - Biara EP (Anoa/self released)


‘Biara’ adalah satu rilisan yang cukup ikonik pada tahun 1999, karena pada saat itu cukup jarang band lokal goth rock yang merilis album. Mungkin Koil, Getah dan Kubik lebih dikenal pada saat itu. Alexandra J. Wuisan (vokalis pertama Cherry Bombshell) mengerjakan departemen vokal dan lirik dibantu Richard Riza (bassist SEL) yang mengerjakan produksi instrumentasi. Setelah Regina Rina bergabung (gitar & back vocal), Sieve semakin solid dan merilis salah satu EP ikonik yang versi kasetnya mungkin sekarang sudah jarang ditemui. Dirilis pada 6 Juni 1999, EP 4 lagu ini sangat padat. Track pembuka ‘Vitreus Wish’ terdengar dingin dengan synth ala dark wave dari Richard Riza yang disambut gitar berdistorsi pada reff. Track kedua ‘Mars’ yang anthemic masih tetap terdengar rocking setelah 22 tahun tidak saya dengarkan. Catchy and danceable too, if a DJ was playing this in a halloween party. Setelah “terkubur” selama 22 tahun, akhirnya Biara EP yang berisi 4 lagu ini bisa dinikmati kembali di kanal-kanal music streaming. Semoga ini pertanda Sieve akan merilis dan berkarya lagi.


                                                             
                                                                                                                                                                                      

Jaydawn - Darkest Dawns Ahead (Grimloc)


Satu lagi rilisan Grimloc yang sedikit underrated, kali dari anggota unit produksi Napalm Squad. Walaupun hanya dirilis secara digital pada bulan Juni tahun 2020, kami rasa EP Darkest Dawns Ahead dari Jaydawn ini perlu mendapat perhatian lebih. Dipenuhi oleh beat-beats grimy yang gelap, teknik chop tingkat tinggi dan produksi yang renyah, 7 komposisi yang diproduksi oleh beatmaker asal Bandung ini memperkaya ranah musik hiphop Indonesia. Jaydawn yang juga anggota Eyefeelsix sudah membuat beats dari awal tahun 2000an sejak dia memproduksi dan merilis album dengan D’Army. Jaydawn juga banyak terlibat dalam produksi album-album lokal seperti ‘9051’ milik Rand Slam dan ‘Swagton Nirojim’nya Krowbar. Sampling drumbeats obscure melebur dengan spoken words dan puisi dari berbagai sumber. Dibuka dengan “Ufuk Tanpa Cahaya” yang sepintas terdengar seperti scoring film noir yang melebur dengan beats-beats yang catchy. Track ‘Penunggang’ yang merefer ke 4 horsemen of the apocalypse (atau Lord of the Rings karya Tolkien?) juga sangat menarik. Track favorit kami adalah ‘Bengawan Kala Subuh’ dengan layer reverse delay synth dan sound snare drum yang jazzy. Sedangkan ‘Normal Baru dan Kebusukan Lama’ terdengar seperti DJ Muggs yang bertemu dengan Godspeed You! Black Emperor, lengkap dengan spoken words politis dan sampling “Mmm.. drop” dari Adrock Beastie Boys. Menurut Grimloc Records, album penuh Jaydawn mengalami delay rilis karena pandemi. Untuk sementara, kita bisa menikmati EP ini layaknya J Dilla ‘Donuts’ dengan soundscape yang lebih gelap. 



Bleach - S/T EP (HSTD Records)


Unit hardcore asal Bandung ini layak diperhitungkan. Mereka merilis EP berisi 3 lagu yang dipenuhi dengan riff-riff hardcore ‘90an, breakdown yang catchy dan sound yang tight. Ketiga lagu di EP ini berdurasi pas, tidak terlalu panjang dan tidak pendek juga. Opening track ‘No Regret’ sangat punchy dan tentunya akan membuat seluruh moshpit berdansa. Pada saat tulisan ini ditulis, mereka juga baru saja merilis video klip ‘No Regret’ yang menampilkan kelima personil Bleach bersenang-senang sambil memainkan lagu ini dengan instrumennya masing-masing. Pada track kedua, ‘Sacred Space’ mereka bermain cepat. Track berdurasi 2 menit ini cukup straight forward dan menjadi langsung menjadi personal favorite. Breakdown yang danceable di akhir lagu ini akan setidaknya membuatmu mengetuk kakimu. Aransemen di lagu ’The Deep is Calling’  sedikit lebih rumit, tetapi tetap menarik. EP ini pun ditutup dengan bassline yang sangat groovy. Kabarnya mereka sedang mempersiapkan debut albumnya dalam waktu dekat ini. In the meantime, you can jam to these 3 groovy songs.



Curated by Aldy Kusumah