Daniel Arsham lahir di Ohio dan menghabiskan masa mudanya di Miami, dimana dia menemukan ketertarikan terhadap street culture dan budaya sneakers. Arsham dikenal lewat karya-karya konseptualnya yang ikonik dan bisa membawa kalian ke dunia baru. Mungkin kamu sering melihat karya seniman kontemporer yang sekarang berbasis New York ini di feeds Instagram atau beberapa website street fashion. Karakter Mew dan Pikachu yang di-dekonstruksi, mobil Delorean Back to the Future yang terkena efek erosi atau Patung-patung Porsche-nya yang disandingkan dengan patung ala renaissance. Ya, semua itu memang stand-out dan mencuri perhatian.




Dalam karya-karyanya, seniman New York ini membuyarkan batas-batas antara seni, arsitektur dan live performance art. Arsitektur adalah salah satu subjek yang kerap muncul di karya-karyanya.  Ketika berumur 12 tahun, badai Andrew menghancurkan rumahnya. Unsur traumatis ini selalu menjadi tema yang konstan di setiap karya Arsham yang juga tertarik kepada efek erosi. Di beberapa karyanya, Arsham kerap memperlihatkan lingkungan yang terkena erosi, lanskap dimana alam menghancurkan bangunan, dinding-dinding bolong dan tangga-tangga yang tidak bertujuan. Dekonstruksi Arsham terhadap arsitektur yang sudah ada juga memperlihatkan sisi lain Arsham yang playful. Eksibisi karya Arsham yang  berjudul Fictional Archeology (Hong Kong, 2015) bertema retro-futurist, dimana Arsham menggabungkan beberapa patung manusia kontemporer yang badan dan wajahnya terkena erosi, dengan fossil-fossil rekayasa lengkap dengan mural, seolah pameran ini adalah bagian dari museum sejarah yang sebenarnya.




“Jika kita mengambil beberapa objek dari masa sekarang seperti kamera dan telepon genggam, 1000 tahun kedepan semua objek itu akan menjadi objek arkeologi yang sudah terdegradasi.” -Daniel Arsham (Fictional Archeology)




Ketertarikan Arsham dalam mengkombinasikan kultur pop kontemporer dengan sajian dekonstruksinya membuat karyanya selalu unik. Beberapa highlight-nya adalah kamera Leica yang terkarbonasi atau Air Jordan dengan efek kristalisasi. Semua itu dibalut warna putih yang dominan dengan sentuhan minimalis untuk eksibisi “Fictional Archeology”. Kolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu pun tidak bisa dihindari. Arsham membuat Snarkitecture dengan Alex Mustonen pada tahun 2007. Proyek arsitektur ini sudah melakukan kolaborasi dengan berbagai brand fashion dan juga mendesign beberapa objek yang fungsional. Pada tahun 2014 Arsham membuat Films of the Future, sebuah production company yang memvisualisasikan semua output kreatifnya, termasuk seri “Future Relic”. Lalu Arsham disponsori oleh Adidas untuk proyek trilogi filmnya “Hourglass”, dimana Arsham terlihat menggunakan sepatu Adidas Originals hasil kolaborasinya. Pada tahun 2017, dia menjadi HypeBeast HB100 sebagai top 100 influencers dalam industri kreatif.




Kolaborasi seni pertama Arsham adalah dengan ilustrator Jepang legendaris, Hajime Sorayama. Lalu NANZUKA “2G” studio pun mendisplay karya Arsham X Sorayama di Tokyo, salah satunya yang paling ikonik adalah tangan robot emas yang dibuat Sorayama berpegangan dengan tangan karya Arsham yang ter-erosi oleh kristal. Setelah membuat beberapa patung yang berbasis Pokemon dengan efek kristalisasi di seri “Future Archeology”, Arsham berkerjasama dengan Uniqlo untuk membuat 7 T-shirt berdasarkan ide-ide tersebut. Beberapa kolaborasi lainnya adalah dengan Kim Jones dari Dior untuk Daniel Arsham X Dior SS20, dan juga fitting room Dior Homme Los Angeles yang dikomisi oleh Hedi Slimane. Karya-karya Arsham sudah dipamerkan di PS1 New York, Museum of Contemporary Art di Miami, Athens Bienniale di Yunani dan Carré d’Art de Nîmes di Perancis. Melihat feeds Instagramnya akhir-akhir ini, Arsham sedang tertarik pada kebun Zen ala Jepang, yang mungkin akan dia korporasikan kembali untuk karya-karya berikutnya, seperti yang dulu sudah ia lakukan pada eksibisi Lunar Garden.









Words by Aldy Kusumah