This dude needs no introduction. Tapi buat yang belum mengenal sosok Herry Sutresna a.k.a. Ucok a.k.a. Morgue Vanguard a.k.a. Babap Kobra, dia adalah seorang lyricist handal yang lirik-lirik politisnya sudah malang-melintang di album-album Homicide, Bars of Death, Pure Saturday, proyek-proyek solonya dan masih banyak lainnya. Kini Ucok disibukkan oleh record labelnya, Grimloc dan juga brand apparel/media-nya Uprock83. Selain menjadi rapper dan produser musik, Ucok juga sudah menulis beberapa buku dan karya design grafisnya sudah banyak dipakai band-band dari Peterpan, Seringai sampai Pure Saturday. Mari simak bincang-bincang JEURNALS dengan Ucok.

______________________________________________________________


“Saya ga peduli sih sama orang-orang yang anti-vaksin lah, atau apa lah, orang mau percaya bumi datar juga saya ga peduli. Ini era krusial dimana debat-debat soal kebebasan individu dan kepentingan banyak orang beririsan banget.”

______________________________________________________________

Halo Cok! Bagaimana kabarnya Grimloc? Kabarnya akan merilis beberapa reissue menarik dari Hark dan Balcony? Apa saja yang akan dirilis dalam waktu dekat ini?

Kabar baik, survive so far. Kalo ngomongin rilisan agak banyak memang, ada proyek reguler, ada proyek reissue. Yang reissue ini agak bermasalah, numpuk karena akumulasi dari gagalnya perilisan di 2020. Hampir setengahnya lebih perilisan di tahun 2020 gagal rilis karena lockdown dan pandemi era pertama. Jadi banyak PR-nya di taun ini. Kayak reissue Forgotten, Balcony, Hark dan Full of Hate itu sudah direncanakan dari lama, cuma banyak halangan teknis. Yang album baru juga cukup banyak, hanya sebagian udah dirilis di kwartal awal 2021. Sisanya ada CD Inhell, CD album proyeknya Tesla Manaf, kaset Roman Catholic Skulls, Rounder dan beberapa lainnya. Ada proyek Klab 7” yang kita mulai taun ini, agendanya merilis single-single baru dan singel klasik era lawas, meski beberapa gak lawas-lawas amat. Yang baru itu Krowbar, pre-ordernya baru dibuka. Kemudian, Eyefeelsix bulan depan, yang lagi proses single klasik milik Koil, ada dua lagu baru kolabo saya sama Doyz, lalu split antara Haramarah dan Total Jerks, lalu kolabo dua lagu lama Balcony x Homicide. Sebetulnya ada juga satu 7” yang direncanakan bareng Eben kemarin, dua lagu baru Burgerkill, tapi nampaknya udah nyaris mustahil karena seperti yang kita ketahui, Eben mendahului kita semua beberapa minggu lalu. Ada beberapa yang lain, tapi ntar lah, belum fix prosesnya.

Kalau yang reissue CD, kemaren itu Homicide, lalu yang baru rilis banget Hark! It’s A Crawling Tar Tar. Sekarang momen tepat 15 tahun album itu, kita pengen rilis ulang dengan layak, di-remaster musiknya, ada booklet isinya liner notes dan arsip dokumentasi mereka. Ada album Ayperos juga, dulu sempet bikin kasetnya, sekarang pengen remaster dengan proper dan cetak CD-nya, dengan tambahan lagu singel lepas mereka. Kalau soal Balcony saya bersyukur ditunda. Karena dulu ga ada master wav-nya dan kita mencoba me-remastering dari kaset. Baru belakangan ternyata kita akhirnya nemu WAV yang lebih proper. Untung ga dirilis tahun kemarin haha. Sebenernya ga sengaja juga nemunya, karena awalnya mau nyari artwork cover untuk dibikin ulang, taunya pas si Febby nyari mentahan cover malah nemu file WAV hahaha. Kalo versi vinyl kita rilis yang mercusuarnya dulu, ‘Metafora Komposisi Imajinar (2003)’ kita anggap sebagai album esensial dan rilisan terbaik dari Balcony. Album-album Balcony lain juga akan kita rilis dalam format CD complete discography lengkap dengan booklet liner notes dan lain-lain. Sebagai tambahan spesialnya, ada beberapa versi unreleased yang ditulis almarhum Jojon. Lagu-lagu yang sempat dia tulis akan kita rilis juga di CD complete discography tersebut.

Agenda lainnya dalam waktu dekat mungkin album remix dari album saya Fateh dalam format CD. Saya ngundang beberapa band/musisi yang saya senangi dan saya pikir bakal menarik kalo mereka melakukan versi remix dari lagu-lagu di album Fateh. Ada Oktopus eks member Dalek, Mike dari Destructo Swarmbots, Nishkra, Vladvamp dari Koil, Senyawa, Tesla Manaf, Efek Rumah Kaca dan beberapa lainnya. Yang versi Senyawa malah bukan remix lagi, udah masuknya cover version sih. Sebuah kebanggaan tentunya. Bagi saya yang pasti, hasil-hasil remix yang sudah masuk sangat mengejutkan. 

Ya kurang lebih itu sih agenda dalam waktu dekat ini. Ada beberapa lagi, tapi lupa, hahahaha. Saking banyak dan tumpang tindih jadi sering lupa apa aja.


Lalu bagaimana nasibnya reissue album Full of Hate, yang merupakan salah satu album hardcore terbaik yang pernah dirilis di kota kembang pada era Harder Records?  

Masih proses remastering sekarang. Udah cukup lama memang, bahkan kelamaan. Permasalahan FOH sama dengan beberapa band lain pada era itu, ga ada masternya yang proper. Masternya dulu pake DAT yang sekarang entah kemana dan belum sempat di-digitalisasi. Jadi kita mastering pakai kaset. Di situ masalah dimulai. Permasalahan besar remastering dari kaset, tiap kaset itu surface-nya beda-beda. Kaya kaset saya lagu ke-1 dan ke-2 bagus, lagu ke-3nya jelek. Pinjam lagi dari si Baruz lagu ketiga bagus, lagu lainnya jelek. Pinjam lagi ke Aris Metalgodz dia punya yang lebih bagus. Jadi sampai sekarang tinggal 2 lagu lagi yang belum nemu versi bagusnya. Lu punya kaset Full of Hate dan saya punya juga, bakal beda-beda jeleknya dimana. Kalo masih segel belum otomatis bagus juga. Karena lama disimpan kemungkinan lebih buruk karena berjamur. Tadinya FOH ini mau rilis versi vinyl tapi kayaknya CD aja dulu.


Lalu apa saja 5 album independen lokal klasik favorit lo? 

Puppen - MK II (1998)


 

Sudah pasti Puppen EP pertama dan album MK II. Tapi atas alasan tertentu kayaknya saya pilih MK II. Bukan karena saya terlibat juga di dalam proses album itu. cuma memang banyak sekali inspirasi yang datang baik dari prosesnya, melihat mereka rekaman di studio, melihat Puppen sebagai band, atau dari album itu sendiri. “Atur Aku” bagi saya adalah salah satu lagu lokal terbaik yang pernah ditulis.


Rotor - Behind the 8th Ball (1992)



Album yang bagi saya membuka banyak cakrawala pisan. Saat itu mikirnya kalau album (thrash metal) dengan sound ekstrem seperti itu aja bisa, harusnya bikin hip hop yang gak lazim juga bisa. Jadi mau se-ekstrim apapun kalian main musik bisa aja. Sebelumnya kan emang pesimis. Selain faktor hegemoni industri yang dominan saat itu, pengalaman nol, juga karena memang belum ada contoh juga sebelum Rotor bikin album ini. Tentunya juga atas alasan saya fan thrash metal sejak berkenalan dengan genre itu di penghujung 80-an. Untungnya pengarsipan mereka bagus jadi ketika di-reissue, WAV-nya masih sangat bisa dibuat lebih layak pas Elevation bikin vinyl-nya.


Pure Saturday - Self-Titled (1995)



Yang satu ini lebih personal nampaknya, tapi saya gak bisa menampik pengaruh besar dari mereka di era itu. Saya menyaksikan proses mereka pas bikin album itu dan bukan hanya menghibur saya tapi juga sangat menginspirasi. Bukan karena ini album para sahabat saya dari kecil, tapi lebih karena membuka banyak perspektif buat saya. Hampir sama kaya Rotor lah membuka perspektifnya. Cuma kalau Rotor kan orang lain yang berbeda kota dan saya ga (belum) kenal, kalau PS kan kenal, notabene temen yang sehari-hari main bareng, literally. Sesimpel itu. Tentunya juga atas alasan karena album ini memang bagus secara artistik. Gak ada lagu jelek di album ini, sama sekali.


Koil - Blacklight Shines On (2007)



Saya udah lama jadi fans Koil semenjak album self-titled yang ada lagu Matahari’ dan Hujan’. ‘Megaloblast’ juga saya suka. Cuma saya ga pernah sebegitu takjub nya dengar Koil sampe kemudian dengerin Blacklight. Anjing! Bisa kaya gini Koil tuh! Ternyata lu bisa bikin album se-solid itu di era yang berbeda. Ternyata konsistensi sangat menentukan. Itu album 2007 pas Homicide udah mau bubar dan era akhir-akhir majalah Ripple. Saya nulis alasan mengapa saya mengagumi album ini di liner notes rilisan reissue vinyl yang Grimloc bikin 3 tahun lalu. Alasan lebih lengkapnya saya sebut semua di situ.


Efek Rumah Kaca - Self-Titled (2007)



Atas banyak alasan, tapi yang paling mencolok adalah bagaimana mereka menulis album yang bisa didengar saat sendu sendirian, berduaan dengan istri atau ditemukan di tengah sebuah diskusi panel tentang kekerasan militer di era pasca-reformasi, semuanya dilakukan seolah effortless dan tanpa terdengar pretentious.


Ya itu kalo lima sih, itu pun yang langsung kepikiran. Rata-rata album favorit saya datang dari era 90-an ke sini. Banyak lagi sebetulnya kalo dipikir lebih lama atau daftarnya lebih dari lima. Album Balcony – Metafora Komposisi Imajinar (2003), Burgerkill ‘Dua Sisi (2000)’, ‘Future Syndrome’-nya Forgotten, album semata wayangnya Hark! It’s A Crawling Tar-Tar, misalnya.


Lima rekomendasi band-band Bandung baru?

Rounder: Band generasi sekarang yang lahir pasca Alice mempopulerkan chaotic metal begituan. Bentar lagi rilis EP, dan tahun depan rilis album.
Bleach: Hardcore dengan suara dan tone kekinian juga.
Iron Voltage: Bisa jadi band thrash lokal paling favorit saya hari ini. Bentar lagi bikin album katanya.
Arrived Consilium: Neo-crust dengan vokal cewek, baru rilis EP di Bandcamp-nya kemaren.
Harm: Band crustcore Bandung Selatan, entah sekarang udah selesai belum EP-nya. Band-band crust Bandung Selatan ini belakangan berbahaya sih, banyak yang bags.


Bagaimana kabarnya dengan brand Uprock83? We miss the zine and those old school hip hop mixtape!



Photo by Domdom GNDHI

Basically Uprock itu dijalanin sebagai media dulu. Media saya sebagai fan hip hop berbagi apa yang saya senengin dari kelebayan saya jadi fan hip hop. Apparelnya itu belakangan setelah saya ngajak Iwan. Nah, belakangan saya gak punya energi untuk bikin medianya tadi. Bikin mixtape berenti, bikin Newsletter/Zine juga berhenti. Ya udah, saya juga gak tertarik juga bikin apparel-nya. Tentu juga ada alasan lain, misalnya saya dan Iwan overwhelmed oleh Grimloc, jadi kita istirahatkan dulu si Uprock, sampe satu waktu kita bisa nemuin lagi energi dan momentumnya. Kemarin Iwan ada ide kalo mo bikin apparel ya bikin aja, cuma saya ga mau kalau kita belum bisa bikin zine dan mixtapenya. Ga lengkap aja kalau cuma bikin apparel doang. Meskipun pasti laku-laku aja. Uprock83 itu ekspresi fandom, jadi selama ekspresi itu belum bisa keluar, (atas alasan waktu dan energi atau apapun), ya udah, istirahat dulu aja. 

______________________________________________________________

“Lebaran tahun kemarin itu kita ga keluar rumah sama sekali kan? Lebaran aja ga jadi apalagi bikin festival musik hahaha..”
______________________________________________________________

Apa saja hal-hal paling menyebalkan yang lo alami di masa pandemi ini? Dan apa saja hal-hal terbaik yang lo temukan di masa sulit ini? 



Photo by Hanas Duvanc

Yang paling menyebalkan ya tentu seperti banyak orang lain yang kehilangan teman dan kerabat. Itu paling tai. Yang lainnya sih sekunderan, misalnya beberapa hal yang ga bisa kita lakukan pas pandemi, gagal eksekusi padahal perencanaan sudah lama. Kita pengen 2020 itu merayakan ultah satu dekade Grimloc. Tadinya mau bikin Grimloc Fest tepat di bulan Juni 2020. Pas lagi gila-gila nya pandemi, gak mungkin banget bikin festival. Lebaran tahun kemarin itu kita ga keluar rumah sama sekali ‘kan? Bisa dibayangin, lebaran aja ga jadi apalagi bikin festival hahaha. Mimpinya luar biasa; semua roster Grimloc main semua, kawan-kawan SSSLOTHHH, Eyefeelsix, Goredath, Forgotten, Wethepeople, Krowbar sampe Mesin Tempur dan Koil maen. Tapi ya sudahlah, kita ganti aja sama kompilasi ‘Dasawarsa Kebisingan’, tadinya malah ga ada rencana bikin kompilasi cuma ya pengen bikin milestone aja pas ultah Grimloc. Hal lain? Omunibus Law lah pasti, plus hal-hal lain yang yang urusannya sama otoritas di lapangan di luar sana yang males saya ceritain di sini.

Kalau yang personal sih mungkin saya gagal rilis buku. Salah satu benefit rilis buku adalah tour-nya. Saya ada buku baru cuma gara-gara ga bisa tour ya mendingan saya tunda. Saya ga pengen rilis buku tapi ga bisa tour. Males kalau tournya pindah ke zoom, ga fun ga bisa ketemu teman-teman. Apalagi ya? Paling sisi lainnya, pandemi mengizinkan saya beririsan dengan inisiatif-inisiatif mutual aid kaya dapur umum, yang mungkin kalau ga ada pandemi lebih sulit diorganisir. Tapi pas ada pandemi ini momennya untuk terlibat di dalamnya.

Hal terbaik? Apa ya? Mungkin hal-hal sepele kayak bikin webstore. Dari dulu tuh kita ga pernah beres mengeksekusi mau bikin webstore. Intinya mah males dan ga punya duit. Cuma duit bisa dicari tapi kalau udah males sulit ya? Haha. Gara-gara pandemi, offline tutup dan kita ga nyaman di marketplace, jadi yaudah kita investasi untuk bikin aktivasi jualan di webstore. Berlaku juga sama workshop artprint kita, dulu rasanya males banget buat mulai, tapi kemaren gara-gara pandemi dan ikutan pameran grafis di Grammars Cihapit, jadi punya workshop setelah mikirin apa yang bisa dilakuin di saat karantina begitu.


Apakah bisa mengelaborasi sedikit mengenai gagasan awal kawan-kawan di Solidaritas Sosial Bandung (SSB) dengan dapur umum dan kebun warga nya? Sudah se-masif apa pergerakan kolektif tersebut?

Pengukuran masif atau engganya kalau buat saya lebih ke bagaimana ter-diaspora gerakan nya daripada membesar. Saya bersyukur ide-ide kawan-kawan berdiaspora dan menyebar. Bukan inisiatif 1-2 orang, tapi inisiatif banyak orang. Jadi bahkan orang-orang yang random dan ga saling kenal jadi terhubung dan berinisiatif. Kaya rhizomatic gitu. Gagasannya sih sederhana, bagaimana merespon realita sosial di luar sana yang butuh direspon sama kawan-kawan, terutama dalam wilayah krisis pangan, wilayah distribusi dan logistik dan lain sebagainya. Bukan cuma gara-gara isoman-isoman, karena isu isoman baru belakangan. Awalnya banyak kawan-kawan berhenti kerja dan ga bisa makan. Dari situ kita bagi-bagi tugas, siapa yang cari logistik, siapa yang organisir dapur, siapa yang masak, siapa yang distribusi dsb. Pada akhirnya yang terjangkau melampaui ekspektasi, bukan kawan-kawan yang bisa diraih, tapi juga warga lain yang juga terdampak.

Proyek dapur umum ini gerakannya memang simultan dengan kebun warga. Bukan kayak logika duluan mana ayam atau telur, tetapi kedua gagasan itu muncul berbarengan. Resource-nya beragam, dari mulai donasi terbuka, fundraising jual kaos termasuk bikin album kompilasi dan juga dari kawan-kawan yang menyediakan ruang-ruang untuk berkebun. Donasi itu ga selalu berupa uang. Bisa juga tanah kosong yang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Di Bandung pernah sampe ada 17 posko SSB, karena ini bukan sistem yang terpusat. Bagaimana kawan-kawan bisa mengemansipasi kawan-kawan lain untuk bikin dapur umum terdekat di lingkungan mereka. Lu punya tanah, lu punya potensi kerja-kerja kewargaan, lu bisa kontakan ama warga sekitar, ya lu bikin. Jangan sampai ada kawan berkebutuhan di Bandung Timur ngambil logistik di Bandung Barat. Udah aja lu masak di Bandung Timur. Itu positifnya dari sistem desentralisasi, ga ada pusat. Justru antar titik bisa saling berbagi sumber daya, misalnya ada surplus tomat di Bandung Barat bisa ngabarin ke titik lain yang membutuhkan. Jejaring ini yang coba dirawat dan mencoba terkoneksi dengan yang serupa di kota lain. Kadang kalo di kita ada surplus sumber daya keuangan, kita salurkan ke titik di kota lain yang membutuhkan. Seiring waktu memang ada pengurangan karena memang mempertahankan lebih susah dari bikin. Ada beberapa kendala personal atau kolektif yang memang harus dimaklumi. Pas gila-gilanya naik angka/curva covid, kawan-kawan kena juga. Jadi ada yang overlap masak iya, delivery iya, pemetaan juga, nganterin logistik jadi kecapean, dan banyak juga yang kena covid.

___________________________________________________________

“Barangkali Bandung memungkinkan untuk itu, kalian bisa sebangku sama siapa, temenan sama siapa, terus bikin band yang berbeda dan pada akhirnya tetap nangkring bareng.”  

___________________________________________________________

Mungkin selain menulis lirik di proyek solo, Bars of Death dan Homicide, banyak juga yang tidak percaya kalau beberapa judul lagu dan lirik Pure Saturday lo yang tulis. Gimana ceritanya dulu bisa menulis lage bareng mereka? 

Sebenarnya banyak sih bukan Pure Saturday aja, cuma saya ga akan bilang. Ghostwriting hahaha. Kalau PS emang saya ada di credit. Kalo ditanya gimana bisa gitu, basically, ya memang sebelum jadi ngapa-ngapain di kemudian hari, kita semua teman main, sejak SMP. Gimana sih temen, saya punya masalah ya sharing sama teman. Begitu juga mereka ketika mereka ada kendala teknis cerita sama saya. Ya teman bantu teman aja. Ya mungkin kalau pada saat itu mereka temenan sama siapa gitu yang bisa nulis lirik lebih proper, cuma kebetulan pada saat itu saya yang ada di sana. Selama itu juga saya besar bersama mereka. Gede bareng ti ABG. Si Adi (Aditya Ardinugraha) malah teman sebangku saya. Sesederhana itu aja sih. Jadi jawaban gak pastinya; barangkali Bandung memungkinkan untuk itu, kalian bisa sebangku sama siapa, temenan sama siapa, terus bikin band yang berbeda dan pada akhirnya tetap nangkring bareng.

Sebagai graphic designer, lo juga banyak membuat logo-logo band dan juga brand. Dari logo Peterpan sampai membantu mendesain cover album Pure Saturday. Album-album dan logo-logo apa saja yang sudah dikerjakan? 

Photo by Easthood

Hhmm lupa. Apa ya? Sampul album? Basically saya itu desainer grafis, level teknis nya berbeda beda. Ada yang dari awal sama saya dibikin, dari mulai ilustrasinya, layoutnya, bahkan ada yang sampe typeface-nya saya sengaja bikin. Ada yang saya cuma layout aja, ada yang artwork-nya aja, ada yang Cuma tipografinya aja. Dan dari semua macemnya itu kalo diitung banyak banget, malah udah banyak yang saya lupa. Ada yang artworknya setengah-setengah, kayak album Taruk, Bara Dalam Lebam’, sampul depan oleh Morgan, layout dan artwork dalam oleh saya. Ada yang bikin konsep sampai hurufnya kaya album si D’Army - ‘Negeri Kutukan (2007)’. Hampir semua rilisan Grimloc saya yang layout. Mostly sih pada akhirnya pas Grimloc jalan 5 taunan, saya jadi lebih kayak creative/art director dan layout aja. Kayak sampul album Krowbar misalnya, saya yang ngonsep tapi sampe level eksekusi saya minta si Tahu yang motret. Begitu juga album reissue debut Forgotten, saya minta Aditia Wardhana eksekusi ide saya. Anjing Tanah – “Complete Discography” juga, foto sampulnya yang si Lumax digulung badut Winnie The Pooh itu saya yang usulkan, saya minta Pepey yang motret, itu orang-orang yang lagi lewat di jalan Banda pada heran, kenapa ada orang digebukin badut. Selanjutnya saya cuma eksekusi fotokopi dan layout, tipografi aja, ilustrasi dalamnya si Lukita yang saya minta kerjakan.

Jadi lo kaya Alfred Lion dan Franciss Wolff nya di Grimloc ya?

Jeung tukang setting oge. Tukang setting Pagarsih. Kabeh lah hahaha. Saya pernah ngeburuh di pabrik percetakan, jadi skill setting saya lumayan cakep, hahahaha. Apalagi ya? Banyak sih, Pure Saturday dan beberapa yang lain. Kalau cuma layout doang kaya album Seringai yang ‘Seperti Api’, Arian kasih mentahan saya yang layout. Kalo di luar Grimloc saya udah hampir lupa apa aja dan mungkin setengahnya rilisan Lawless Records kayak albumnya Hurt Em misalnya, juga rilisan-rilisan Elevation Records kayak reissue vinyl trilogi Gombloh dan Rotor kemaren. Mostly sih layout aja, nya jiga album maneh lah hahahaha (Nearcrush - ‘Bloodsports & Modern Arts’). Album Peterpan ‘Suara Lainnya (2012)’ dari ide, moodboard sampai layout akhir saya yang bikin meski pada akhirnya layout jadi agak menyebalkan karena permintaan tambahan ini itu dari pihak label. Album debut Risa Saraswati yang tahun 2011, begitu pula album Godless Symptoms yang baru akan dirilis sama Disaster Records sebentar lagi. Yang lebih dari 10 tahun sih udah lupa banget, harus lihat daftarnya di komputer, hahaha.

Selain swiss design dan inspirasi dari label seperti Stones Throw, Def Jux atau Dischord, inspirasi-inspirasi grafis/visual terbesar lo apa saja?

Saya teh fans pisan sama David Carson dari jaman dulu. Dia ada di tengah-tengah antara swiss desain dan punk rock. Walaupun ga terukur, dia tuh anti-grid banget. Memanfaatkan negative space-nya tuh swiss design banget. Saya juga fans banget sama poster-poster Rusia, ya konstruktivist pada umumnya. Brutalist, Bauhaus dada-dada gitu lah. Ya itu mah mazhab ya. Hip hop juga tentu, terlebih visual hip hop era 80-an akhir sampe 90-an awal. Era grafis Memphis gitu, modelan Yo! MTV Rap. Juga penggayaan hardcore 90-an awal. Sebenernya referensi desain terbesar saya mah punk rock karena saya besar dengan punk rock meskipun pada akhirnya seringnya mikir grid kayak swiss desain banyak ngebantu. Kaya Gee Vaucher (Crass) dengan kolasenya. Sampe sekarang saya mainin kolase, kemaren Domesticrust dari mana lagi kalau bukan dari Gee Vaucher. Dari punk referensi paling paling favorit itu Mark McCoy dari era Charles Bronson-nya. Anjing bagus pisan! Sampe sekarang saya fans berat Mark McCoy. Ajaib gimana dia maenin metode fotokopi manual, drawing-fotokopi bolak-balik, komputer-manual-komputer-manual.

Kaya album Balcony yang ‘Metafora Komposisi Imajinar (2007)’ itu juga fotokopi ya? Pakai lakban segala kan di foto-fotonya?

Itu mostly sih Febby yang buat. Kesetanan David Carson juga. Semua album Balcony juga pada eranya pake teknik jadul. Basically karena keterbatasan teknik pada era itu ya harus kaya gitu, kalau jaman sekarang bisa digital, tinggal nempelin tekstur. Jaman dulu ada lakbannya di-layout album Balcony ya karena emang nya’an lakban hahaha. Ya balik lagi ke desain, ya inspirasi terbesar mostly punk rock lah. Majalah Heartattack, Maximum Rocknroll, Profane Existence. Album-album crust core meskipun beda-beda desainer tapi mirip-mirip kan hahaha.

Apakah sulit untuk membuat semua rilisan album Grimloc Records memiliki nuansa visual dan karakter yang senada? Yang gue liat juga kaya rilisan Stones Throw, Dischord, Grimloc walaupun berbeda designer dan karakter tapi terlihat “Oh ini album rilisan Dischord, ini rilisan Grimloc”..

Sulit sih ngga, Cuma emang gak pernah direncanain untuk senada juga. Tapi kadang saya nyadar suka ada yang senada. Paling engga pemilihan tipografi dan layout, ya betul sepakat sih dalam hal itu. Cuma vibe-nya beda-beda tergantung arahan artistik-nya. Saya ga bisa nyamaratain desain album Koil dengan album Anjing Tanah hahaha. Rand Slam ga bisa saya bikin dengan feel-nya Sacred Witch. Sesuatu yang sangat berbeda secara mood-nya juga. Mostly arahan artistik dari saya, tapi ada juga diskusi dengan band-nya, atau dengan senimannya. Kaya untuk Bars of Death saya diskusi sama Riandy, bagusnya kaya apa ilustrasinya. Ongoing project kita lagi bikin sampul Eyefeelsix, saya diskusi sama Fajar Alanda yang bikin cover Burgerkill ‘Adamantine’. Tapi kadang-kadang ga melibatkan band. Kaya Anjing Tanah, saya pikir ga perlu ngobrol sama band-nya, sikat-sikat aja hahaha, yang penting saya liatin hasilnya dan mereka memberi lampu hijau “Okeyy”..

Ada niat pameran?

Ada sih, tapi ntar. Si Vidi (Maternal Disaster) sempet ngajak. Pameran artprint saya. Harusnya tahun kemaren juga ada rencana pameran di beberapa kota, dan dapet undangan pameran di Tokyo dan sekaligus residensi di Rotterdam, tapi ya sekali lagi, pandemi mengubah semua rencana.

______________________________________________________________

“Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan milik kita sendiri.”

______________________________________________________________

Apa saja hal-hal terbaik yang dimiliki oleh Harder Records dan tidak dimiliki oleh Grimloc? Dan sebaliknya…


Harder itu embrio-nya Grimloc. Kalau ga ada pengalaman sama Harder saya mungkin ga akan punya pengalaman untuk membangun Grimloc. Otomatis Grimloc memperbaiki banyak hal yang dulu miss di Harder. Saya sama Febby (Herlambang) tentunya ya. Karena, yang dulu di Harder dan sekarang di Grimloc ya cuma saya sama Febby. Sekarang lebih terorganisir dan mencoba buat sustainable. Makanya kemudian umurnya Grimloc lebih lama dari Harder. Dulu pada zamannya Harder itu ya begitu, jadi tempat komunitas, kaya melting pot dari berbagai komunitas. Sekarang juga sama tapi sekarang kita ga harus nongkrong di Grimloc, sekarang kita bisa nongkrong dimana aja, tapi semacam episentrum lah si Grimloc. Buat saya juga itu positif negatif karena saya juga gasuka Grimloc jadi sentralisasi. Seharusnya lebih menyebar aktivitasnya. Positifnya dari ngumpul bareng itu jadi banyaknya aktivitas yang bisa lahir dengan cepat karena nongkrong bareng. Dulu mungkin ga ada sosmed. Jaman dulu untuk hal-hal yang teknis kita harus ketemuan dan janjian di Harder. Sekarang semua diselesaikan oleh teknologi. Kalau sekarang mo ngurus cetakan bisa langsung ketemu di percetakan atau kirim file, kenapa harus ketemu di Grimloc? haha. Mungkin untuk beberapa hal teknis sekarang ga harus ketemu. Sekarang tuh mengefektifkan waktu untuk orang-orang seperti kita yang udah bapak-bapak itu penting. Manajemen waktu seperti itu kita ga pernah ngeh pas jaman Harder. Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita dulu seolah punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan punya kita sendiri. Dulu Harder ga serapih Grimloc dalam mengatur cash flow produksi, agenda dan lain-lain, jadi kaya take it to the next level lah.

___________________________________________________________

“Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam.”

___________________________________________________________

Apakah menurut lo covid ini adalah defense mechanism mother nature untuk melindungi diri, a freak random accident atau human made bio-weapon? Bagaimana lo menyikapi ini semua dengan padatnya arus informasi dan hoax yang bertebaran... 


Sejujurnya saya selalu mencari rujukan dalam banyak hal. Kaya misalnya lu gatau sound lu belajar sound ke yang ngerti sound. Lu mau benerin gitar ya tanya ke teknisi gitar. Benerin boombox ya ke Cikapundung. Nah, untuk hal medis dan ekologi saya belajar ke banyak orang yang ngerti. Ya tanya ke orang yang lebih tau banyak soal hal medis, kaya ke nyokap saya salah satunya yang lebih tahu banyak tentang medis. Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam. Lu ngerusak habitat dimana virus hidup, kaya lu rusak hutan tempat kelelawar cari makan, ya kelelawarnya ke tempat manusia lah cari makan sambil bawa virus. Ya habitatnya lu rusak. Global warming juga bukan sesuatu yang datang begitu saja. Kaya misalnya lu belajar ideologi biar ga dogmatis ya lu baca juga tandingannya. Misal Marxisme, belajarlah dan dibuktikan secara empirik, baca teks buku lain yang berlawanan dengan ideologi lu. Ya sama seperti sekarang dengan banyaknya arus informasi walaupun kita punya keterbatasan untuk absorb informasi, ya cari aja yang relevan dengan hidup lo. Dan juga cari info yang berhubungan dengan itu semua. 


Lalu bagaimana pendapat lu terhadap orang-orang yang menyebarkan informasi tidak benar di era pandemi ini?


Agak problematik untuk nentuin apa yang benar dan tidak di era chaos seperti ini. Meski demikian, saya ga peduli sih sama orang-orang yang anti-vaksin lah, atau apa lah, orang mau percaya bumi datar juga saya ga peduli. Ini era krusial dimana debat-debat soal kebebasan individu dan kepentingan banyak orang beririsan banget. Pertanyaan soal kebebasan untuk gak divaksin dan irisannya dengan publik, juga soal kepentingan korporasi dibalik politik dagang dan kesehatan publik. Saya berusaha untuk ga peduli beberapa hal dan lakuin aja apa yang diporsi saya aja. Ya saya sih nyuruh orang terdekat dan temen-temen vaksin aja dulu, tentu dengan prasyarat medis tertentu, yang orang medis pasti lebih tau. Dalam level propaganda, sama aja kayak ada orang yang mempromosikan ideologi neolib, ya upaya tandingannya agitasi propaganda ide-ide tandingannya.

Saya gak punya masalah sama orang yang berbeda pandangan, malah upaya kriminalisasi orang-orang yang kayak begitu buat kemudian di penjara kayak JRX kemaren itu harus dilawan juga. Cuma yang jadi masalah buat saya adalah ketika orang-orang itu mulai masuk ke DM atau di sosmed untuk ngajak debat dengan memulai kaya “Lucu banget, anti kapitalisme ngapain lo vaksin?”, itu kan males banget debatnya juga. Udah kelewatan gobloknya sampe males ngeladenin. Ya bisa aja masuk ke debat meskipun saya punya jawabannya, tapi ya wasting time aja gitu. Banyak lah yang ajak debat soal ini, ya adalah gausah disebut lah orangnya tar jadi drama hahaha. Intinya mah udah aja jalanin aja dulu apa yang kita yakinin.

Ngomongin soal informasi, ada waktunya tarung ideologi, diskursus, wacana atau apapun namanya. Lain tempat dan waktu. Saya juga suka nyerang dalam hal-hal yang sangat politis. Namanya juga perjuangan politik ada agitasi dan propaganda. Tapi itu beda konteks, dan harus dipastikan premisnya kagak goblok. Ada waktunya buat merealisasikan ide-ide, menjalankan praktek-praktek, membumikan gagasan dsb. Ada waktunya juga buat refleksi, diskusi, kritik-otokritik dan perang wilayah gagasan. Ada waktunya juga buat perang di wilayah imaji, karena kita tau para politikus beroperasi dan membuka medan juga di situ. Kayak Ridwan Kamil, orang Bandung udah paham gimana dia memanfaatkan kekuatan citra untuk mengkonstruksi realitas di luar sana. Dan saya pikir harus dilawan spectacle itu, Guy Debord guerilla squad style.


Jadi sekali lagi, saya mah gak heran pandemi hadir, memang mungkin sudah seharusnya seperti sekarang dengan semua yang manusia udah lakuin. Sistem hari ini busuk bukan gara-gara pandemi, pandemi cuma menelanjangi apa yang memang udah busuk. Buat saya sih gimana sekarang kita ngerespon sesuatu yang sudah terjadi diluar, dan kemudian kita saling jaga aja. Dari pada ngabisin energi untuk mencoba merubah hal-hal yang jauh dari jangkauan kita. Kalau ngomongin negara, kebijakan-kebijakan negara yang sudah ada itu sebenarnya sama horornya dengan pandemi. Omnibus Law yang kemaren rame-rame dilawan itu misalnya. Karpet merah buat korporasi untuk buka lahan misalnya. Politik upah murah dan segala tetek bengeknya. Ga ada salahnya buat kawan-kawan yang mau meneruskan mengkritik negara saat ini, go on. Mungkin ini memang saatnya untuk melakukan itu lebih intens lagi. Tapi harus juga dibarengi dengan upaya-upaya, ikhtiar-ikhtiar agar kita sesama warga bisa survive. Ngebangun basis ekonomi warga, bikin mutual aid, berserikat, berjejaring, bersolidaritas dan sebagainya. Ini bukan cuma buat pandemi, karena jauh sebelum pandemi, kapitalisme sudah melahirkan krisis.


Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Herry Sutresna archives, Easthood, Domdom GNDHI & Hanas Duvanc
Layout by Prita