Marcel Thee adalah seorang pria yang memiliki 6 akun Bandcamp, belasan proyek bermusik dan (mungkin) ratusan lirik / lagu unreleased di Hardisknya. Marcel adalah sosok dibalik lirik-lirik witty Sajama Cut, eksplorasi suara Roman Catholic Skulls & Strange Mountain, juga proyek kolaboratif inisiasi musik The Knife Club. Simak perbincangan JEURNALS dengan Marcel mengenai menulis lirik multiinterpretasi, lebih menghargai kaum wanita, ego dalam band dan kenapa album dengan 9 lagu itu lebih baik…
_____________________________________________________________________

“Kalau “Payudara” ini tentang victim blaming. Bagaimana orang yang biasa menghakimi cara wanita berpakaian, adalah orang yang sebenarnya paling sempit pikirannya dan paling ngeres. Sedih banget kalau kita hidup di society yang bisa menghakimi cara orang berpakaian.”

_____________________________________________________________________


Single terbaru Sajama Cut “Payudara (Bijaksana Beriman)” kenapa ga masuk ke album “Godsigma”? Padahal rekaman-nya di session yang sama ya?
Karena judul dan topiknya sih. Topiknya tuh sangat amat penting untuk kita sampaikan tanpa distraksi. Kalau dalam konteks album kan “Godsigma” itu bahasa Indonesia dan itu album pertama SC setelah 5 tahun. Jadi banyak yang kita harus jelaskan tentang album itu, tentang liriknya khususnya, musikalitasnya kenapa kita udah lama ga rilis. Orang kan pasti paling banyak nanyain “Kenapa bahasa Indonesia? Kenapa judul lagunya begitu?”. Kalau ada satu lagu “Payudara” ini gue merasa diskusi nya ga nyampe. Kalau dari musik masih nyambung soalnya direkam di sesi yang sama banget. Tadinya mau masuk, cuma di momen terakhir gue putuskan untuk mencabut lagu ini. Alasannya selain yang tadi tuh karena gue penggemar album yang isinya cuma 7-8-9 track, kaya Slint - Spiderland, atau Tortoise - Millions Now Living Will Never Die. Kalo 9 lagu gitu padet kan ga ada fat-nya. Ceritanya sih all killer no filler harusnya hehe. 




Topik yang ingin lo angkat di tema lagu “Payudara (Bijaksana Beriman)” ini tentang apa?
Gue ngerasa diskusi tentang lirik di lagu ini terlalu bahaya kalau dicampur-campurin. SC tuh ga pernah ingin menyampaikan sesuatu. Khususnya topik yang berunsur sosial atau humanis. Gue selalu mau pendengar punya interpretasi sendiri. Cuma kalau lagu ini orang jangan sampai punya interpretasi sendiri. Setidaknya mereka jangan sampai salah tangkap. orang kan pasti “wah ini judulnya lucu porno nih..”. Dan kita udah ngalamin hal itu di lagu “Mari Kita Bunuh Diri”. Sampe sekarang orang kaya mention kita kalau mereka lagi down dan depresi pake lagu itu. Bahkan itu lagu yang paling dikenal dari album “Apologia”. Emang bahaya sih itu lagu. Takutnya orang salah ngertiin.

 

Kalau “Payudara” ini tentang victim blaming. Bagaimana orang yang biasa menghakimi cara wanita berpakaian, adalah orang yang sebenarnya paling sempit pikirannya dan paling ngeres. Gue tuh menghindari banget isu-isu seperti ini dipakai angle marketing. Hal bagus sih kalau band-band generasi ini mengangkat topik-topik ini, socially woke. Cuma ada bahaya juga ini menjadi sebuah trend. Bandwagoning. Kalau sesuatu jadi trend itu kan kita tahu trend bisa habis. Sedangkan hal2 seperti ini tuh kan kontinyu, perjuangan nya ga habis-habis. Payudara gue tulis udah lama, waktu itu lagi rame ttg RUUPKS. GUe dari kecil bokap nyokap gue tuh open minded soal seksualitas padahal mereka tua banget generasi VOC. Anak gue yang paling gede juga perempuan kan, dan bukannya sebelum punya anak gue ga peduliin hal ini. tp dia udh mau remaja dan bertambah dewasa kan, udh mulai suka bergaya. Sedih banget kalau kita hidup di society yang bisa menghakimi cara orang berpakaian padahal anak gue misalnya bilang baju itu bagus, padahal anak gue remaja aja belum. Judul “Payudara” ini sendiri kaya umpan. Kalau misalnya lo bilang wey payudara judulnya jorok banget lagu itu. Nah berarti lo adalah orang yang gue nyanyiin, lo adalah subjek lagu itu hahaha. Kalau toket kan jorok konotasinya, tapi kan payudara kan konteksnya ya nyokap kita punya payudara, itu ga jorok. Jadi semuanya tergantung persepsi.
____________________________________________________________
“Lagu cinta kan orang biasanya bikin pas lagi panas-panasnya kan? Pas baru mau jadian atau kalau engga pas baru putus. Sedangakan ga ada lagu yang ditengah-tengah dimana lo udah menjalani rutinitas bersama, satu badan dan satu pikiran. “
____________________________________________________________


Kalau “Adegan Ranjang 1981-1982” itu tema liriknya tentang apa?
Kalau lagu ini harfiah sih. Ya itu tentang ngewe haha. Tentang bercinta lah bukan ngewe. Itu maksudnya gue buat lagu cinta yang segamblang mungkin sih. Kan itu tahun lahir gue ama istri gue kan. Kita udah lama banget temenan dan gue pengan bikin lagu cinta untuk istri gue. Lagu cinta kan orang biasanya bikin pas lagi panas-panasnya-kan? Pas baru mau jadian atau kalau engga pas baru putus. Sedangakan ga ada lagu yang ditengah-tengah dimana lo udah menjalani rutinitas bersama, dimana lo udah jadi satu badan dan satu pikiran. Stinky. Satu thinking hahaha. Katanya dulu nama band Stinky dari situ hahaha. 




Balik lagi ke “Payudara”, lo bikin juga ya video klip-nya?
Iya karena gue mau berusaha sejelas mungkin pesan nya. Ada message-nya. Video klip-nya juga lebih direct lah. Ada storyline, kalau video kita yang lain-lain istilahnya lebih indie rock lah. Shootingnya kita ga ikut sih, itu semua si Nitya. Jadi “Payudara” tuh lagunya kebagi 2 section. Dibelakang ada bagian lagunya ngedrop sebentar terus naik lagi, nah itu baru band nya ada disana cuma ya shootingnya terpisah sendiri-sendiri. Gue udah 1 setengah tahun ga ketemu anak-anak band. Cuma lumayan ngebut ini bikin storyline dan brainstorming visual video-nya. Karena lumayan mepet dari proyek sebelumnya yang “Terbaring di Pundak Pesawat…”.


Bisa ceritain sedikit tentang Roman Catholic Skulls? Rencananya bakal merilis split dengan Kuntari (Tesla Manaf) ya via label Grimloc Records?
RCS tuh sebenernya sama Danif Pradana awalnya, musisi noise dari jaman dulu. Dia salah satu orang yang dari dulu surat-suratan. Dari tahun 2000-2001an gue kepikiran ngontak dia untuk bikin proyek RCS ini. Gue kontak dia untuk bikin proyek musik yang berfokus pada pembentukan suara, struktur suara, dan bagaimana musik itu sendiri dibuat. Macem-macem sih dari field recording, processed recording.. 


Kaya band-band majalah WIRE lah ya? Hahaha.. 
Iya bener-bener haha. Kan kita ada split sama Kuntari (Tesla Manaf), itu cuma gue sih pas di situ. Tapi materi yang sebelum itu tuh gue masih sama Danif, cuma dia cabut karena kesibukan keluarga. Kalau si Daniel (Mardhany) tuh pengen banget dia dari dulu di proyek RCS ini, dia pengen kontribusi ke RCS, karena kebetulan Danif udah cabut, Daniel ikutan meskipun ga banyak, cuma dia terlibat. Dia tapi lebih suka harsh noise dan industrial jaman dulu. Nah album yang baru ini akan dirilis sama Ucok (Grimloc Records) juga, ini salah  satu karya favorit yang pernah gue buat. Jadi setelah split Kuntari akan ada album full ketiga RCS yang juga dirilis oleh Grimloc. Kalau yang di split Kuntari itu RCS cuma satu track dan lagunya panjang banget, lebih ke motorik dan field recordings gitu sih.


Gue sama Ucok emang udah rencana rilis album ketiga RCS, cuma kata Ucok kenapa ga bikin split dulu ama si Tesla, sebagai penghangat-nya sebelum album ketiga. Yaudah, asik juga nih kata gue. Karena RCS kebetulan udah lama ga rilis sesuatu. Kalau RCS yang album sebelum nya tuh yang gambar katedral itu. 


Kalau solo album lo yang “With Strong Hounds Three” itu dirilis dalam format apa saja? Yang cover gunung itu ya?
Iya Solo album gue yang covernya gambar gunung itu. Ada vinyl-nya, kaset dan CD juga. Itu rilisan pertama Majemuk Records (vinyl), dan dirilis juga oleh paviliun records versi CD-nya. Kasetnya belum lama ini baru dirilis, awal tahun oleh Sabda Nada.




Kalau The Knife Club itu gimana background awal mula terbentuknya?
Itu kolaboratif banget sih, itu awalnya gue sama Baldi Calvianca (Strange Fruit). Kita buat kaya fondasi musik lalu diisi oleh macem-macem kolaborator. Pemikirannya sih lebih kaya inisiatif musik, kolektif besar yang fluid banget sama keanggotaan. Fleksibel banget. Kalau soal musiknya ga diomongin sih Dy, gue ama Baldi kaya cuma buat draft, saling mengisi dan kita siapkan list kolaborator yang sudah siap kita kontak. Lalu kita oper aja ke mereka “lo mo coba lagu yang mana?”. Tapi diobrolin sama setiap kolaborator aransmen dan partnya. Jadi bukan cuma mereka nimpa yang udah ada tapi kita aduk-aduk lagi. Seru sih, itu salah satu proyek yang paling seru cuma sayang aja belum jalan lagi. Lo omongin ini gue jadi pengen sih jalanin lagi si The Knife Club.




Bagaimana dengan proyek lo dengan Haikal Azizi (Sigmun, Bin Idris) yang bernama Nakatomi Plaza itu? Lo berdua pasti fans John McClane-nya Diehard ya haha..
Awalnya kita punya acara ‘Recollecting’ di Sunset Limited Kemang. Punya-nya Fandy Susanto dari Table Six. Dulu sih semacam Coffee House dan Agency Table Six diatasnya. Jadi Sajama Cut maen di coffee house itu dan kita undang si Haikal. Itu pertama kali gue ama Fandy nonton Haikal solo. Haikal main-nya bagus banget. Kata Fandy “lo coba deh bikin Cel art project sama Haikal, nanti kita rilis”. Si Fandy punya record label Scouting Unit. Akhirnya gue kontak-kontakan ama Haikal dan karena kelamaan proyeknya, akhirnya dirilis sama Orange Cliff Records, karena Fandy-nya sibuk sekali. 


Haikal itu gampang banget diajak kerjasama karena dia itu main songwriter di band-nya. Jadi gue kirim apa aja ke dia, aransmen dan struktur lagu nya kita sepemikiran. Simple lah ga banyak diskusi. Kalau soal nama dari film Die Hard si Haikal bebasin sih, lo mo kasih nama apa? Dari dulu gue pengen punya band namanya Nakatomi Plaza, cuma gue takutnya orang nyangka “wah Jepang nih  J-rock lah atau city pop musiknya hahaha”. Kalau gue sih nama band dari dulu  pengennya kalau disebut gampang, disebut di bahasa Indonesia atau Inggris sama. 




Sajama Cut itu awalnya proyek solo baru jadi band atau gimana?
Engga sih, band dulu sebenernya. Dulu gue pulang dari belanda tahun 1994, sekolah bentar karena bokap gue akademia jadi kesana sebagai visiting fellow. Pas 14 tahun gue balik Indonesia banyak ngebawa banyak musik di kepala gue dari sana. Tahun ‘90an kan susah ya cari musik baru, di Indo kan terbatas alternative rock cuma yang terkenal aja. Pas disana semua gue embat dan devour semua. Nirvana dengerin nya apa sih? Dulu kan ga ada internet. Kurt Cobain pake baju Daniel Johnston kan, nah gue cari tuh tentang Daniel Johnston. Lalu gue pulang kesini bawa influence-influence baru gue. SC awalnya namanya Idioteque terus jadi Roswell baru jadi Sajama Cut. Tapi basically isi orang-orangnya sama, anak-anak komplek, sekolah dan temen-temen deket gue. Malah awalnya band banget si SC, tapi tengah-tengah sempet ga “ngeband”.


Kalau “Osaka Journals” itu background lo nulis lagu-lagunya memang di Osaka atau dimana?
Haha.. engga. Gue nulis lagu-lau itu kebanyakan di Perth sebenarnya pas kuliah. Ini kesannya gue jetset banget ya hahaha, ini kebetulan loh. Gue bukan jetset, anak pejabat atau anak diplomat. Gue mesti jelasin ini. Ini semua kebetulan aja karena bokap gue kerja kaya gitu. Sederhana banget hidup kita di luar negeri. Waktu itu gue kuliah di Curtain. Pas kuliah itu gue tersiksa karena kangen bermusik bareng anak-anak SC. “Apologia” itu album kedua kita sebenarnya. Pas masih bernama Roswell kita udah rekaman merilis “album pertama”, lebih kaya alt-rock kaya Weezer, Nirvana. Ini tahun 1999 Jakarta masih susah banget untuk cetak cover juga. Gue ama Eric  Wirjanata (Deathrockstar) ngeprint digital, dulu mungkin design-nya masih di Coreldraw. “Apologia” tuh gue berusaha nge-expand musik SC yang tadinya sederhana dengan lirik dan aransmen yang kompleks dan panjang. Gue dengerin black metal, Darkthrone, sampe Cradle of Filth. Jadi lagu-lagunya panjang. “Mari Bunuh Diri” dan “Terdampar” itu yang paling nge-pop di album itu, sisanya lagu-lagu 7-8 menitan. 


Nah “Osaka Journals” itu nge-kontras “Apologia” lagi Dy. Gue pengen buat lagu yang singkat dan berbahasa inggris, berbeda dengan “Apologia” yang durasinya panjang dan berbahasa Indonesia. SC tuh gitu, memang selalu nyusahin diri sendiri sih. Gue balik ke Jakarta bawa lagu-lagu itu tahun 2003, rekaman ama anak-anak ya jadi udah album itu. Abis itu David Tarigan denger, di Bandung juga cepet banget menyebarnya soalnya Helvi dan anak-anak FFWD Records pada denger juga. Hal-hal itu ngebuat kita kaya mulai diterima nih. Scene-nya pada saat itu kan gila banget Dy, banyak yang seangkatan ama kita pada saat itu kaya The Brandals. Momentum yang amat sangat.. Beruntunglah kita bisa ada disitu. Lalu ada soundtrack Janji Joni, kompilasi JKT: SKRG. Gak kebayang sebelum itu bisa ketemu orang-orang sejawat yang bisa ngomongin Pavement, Joy Division. Sekarang sih mungkin siapa aja tau ya hahaha. Kalau dulu tuh susah, kaya kita pernah nyamperin orang karena kaosnya keren kaya anak band, lalu ngobrol ama orang itu. Saking langka banget orang-orang seperti itu, ingin mencari teman yang bisa diajak ngobrol musik hahaha…

____________________________________________________________

“Gue tuh ga pernah buat album untuk orang lain. Sajama Cut ga pernah masif karena gue tau gue buat lagu itu self-indulgent lah. Tapi Godsigma itu udah dibuat dari awal untuk panggung. Untuk berinteraksi dengan penonton. Tapi ngehe nya, ada pandemi hahaha." ____________________________________________________________

Bagaimana band lo beradaptasi dengan keadaan sekarang?
Kalah sih, kalah sama keadaan. Kita berusaha beradaptasi , tapi kita cuma bisa kreatif secara studio. Kita tuh ga begitu jago teknologi. Awal-awal orang kan suka virtual concert yang kamera-nya bisa pindah-pindah itu sih, kita juga sempat ditawarin tapi ga nyaman.  Karena beberapa hal kita juga belum ambil sih tawaran-tawaran itu. “Godsigma” itu kan album yang diperuntukkan untuk dibawakan live. Gue tuh ga pernah buat album untuk orang lain. SC ga pernah masif karena gue tau gue buat lagu itu insular, self-indulgent lah. 




Waktu promo album “Hobgoblin” tuh kita pernah sepanggung ama Morfem di acara Thursday Noise. Itu kan acaranya Jimmy Morfem, dan ya band-bandnya semua tuh band rock lah. Gue pas liat band-band itu kaya “anjing, seneng ya main musik rock yang simple dan straight forward”. Godsigma itu udah dibuat dari awal untuk panggung. Untuk berinteraksi dengan penonton. Setelah menulis lagu begitu lama lo taulah trik-trik aransmen, momen dimana dinamika lagu ini bagus naik atau turun, part ini seru buat crowd, quiet-loud dynamics. Bagian ini bisa kita stop, bagian ini bisa jadi jamming, ya macem-macem sih, itu semua gue terapkan di Godsigma. Gue dari dulu selalu menghindari trik-trik seperti itu, tapi untuk Godsigma, ayo lah. Ayo kita seru-seruan di panggung. Ya itu ide nya Dy, tapi ngehe nya, ada pandemi hahaha..  
________________________________________________
“Gue bingung sama orang-orang yang anti masker gitu,

keren padahal pake masker”

________________________________________________
 
Jadi belum pernah manggung membawakan lagu-lagu “Godsigma”?
Sempet kita manggung sekali, launching single pertama “Kesadaran/ Pemberian Dana/ Gempa Bumi” dan itu pun sudah mulai ada kabar dari Wuhan. Orang-orang belum pada pake masker tuh, gue pake masker ke venue soalnya keren juga kaya ninja gitu. Gue bingung sama orang-orang yang anti masker gitu, keren padahal pake masker. Kalau gasalah sekitar akhir Maret atau awal April, pokoknya pas Indonesia masih denial gitu. Di bulan yang sama itu kita udah ada kaya 5 show. Lalu satu-satu kita cancel. Jadi ga tau deh kapan bisa balas dendam nya, manggung-manggung lagi.


Bagaimana proses songwriting lo dan treatment terhadap tiap album Sajama Cut?
Beda-beda. Sajama Cut selalu berbeda. Kaya “Manimal” kita kan di studio banget, cuma gue sama produser gue, bukan produser sih, anggota Sajama Cut ke 6. Gue buat lagu pake gitar nylon terus dia pake controller. Lalu kita ngomongin konsep.. Lebih banyak in the box lah, Dy. Lalu album “Hobgoblin” gue buat pakai piano karena gue ga bisa main piano. “Godsigma” kita buatnya di studio latihan, ga pernah tuh soalnya SC nge-jam di studio latihan. Gue buat dasar lagunya lalu kita aransmen bareng. Tiap rilisan beda-beda. Strange Mountain bisa membuat dan merilis lagu tiap bulan, tapi untuk Sajama Cut prosesnya lama, sekitar 5 tahunan tiap album. Gue berusaha ngebuat seru sih soalnya udah 30 tahunan membuat lagu walaupun instrumen yang paling gue kuasai gitar, tapi gue selalu berusaha men-challenge diri sendiri menggunakan instrumen-instrumen yang gue buta seperti synthesizer dan drum machine untuk membuat lagu. Bikin susah diri sendiri. Meskipun pakai gitar pun gue selalu memakai alternate tuning. 


Jadi formasi Sajama Cut sekarang adalah formasi tersolid Sajama Cut? 
Engga hahaha. Kita masih ganti-ganti terus. Gue lagi membentuk SC baru. Udah lumayan lama kan anak-anak yang kemarin. Jadi SC itu ada band intinya dan ada band live nya. Jadi meskipun kita memainkan lagu lama kita selalu ada nuansa baru deh. Kalau sekarang sih kita lagi nyari lagi sih.


Lo adalah satu-satunya personil SC yang bertahan dari awal sampai sekarang. Apakah lo Ahmad Dhani versi indierock? 
Gua tau sih orang suka ngomong gitu, cuma ego gue tuh ga segitu sih. Gue ga pernah mau orang menganggap SC itu Marcel. Konsep SC itu band karena gue ingin mencari partner dalam bermusik. Itu lebih seru Dy, dibandingkan gue main musik sendiri. Gue juga ga ada keinginan untuk dikenal sebagai tokoh dan menjual diri gue sebagai itu, apalagi berusaha kesana. Tapi gue punya visi SC itu apa, dan standar musik-nya harus gimana, itu emang ada tapi fleksibel banget kok. Memang belum ada aja sih yang nempel banget. Cuma ada tuh yang bantuin rekaman dari jaman “The Osaka Journals”, “Manimal”, dan “Hobgoblin”. namanya Yosi, dia multi-instrumentalist juga. Tapi memang gue belum dapat sih.. Ini tanpa mengecilkan peran anak-anak yang pernah dan sedang ngeband ama gue. Cuma SC tuh buat gue yang penting musiknya. Jadi kalau memang musik-nya ingin ke arah sini tapi yang formasi ini ga bisa buat ya diganti. Misalnya gue pengen buat yang nuansa vokalnya seperti apa dan gue ga bisa nyanyi pun, ya nanti yang nyanyi orang lain. Gue ga akan memaksakan. Serving the songs. di “Hobgoblin” juga gue hampir ga main gitar soalnya permainan gitar gue itu cuma menjadi distraksi disana. 




Tapi gue ngerti emang orang dari dulu suka ngomong Ahmad Dhani.. hahahaha.. Gue dari dulu suka bilang ke anak-anak juga. Jangan terlalu menganggap pujian yang datang ke kita. Kaya misalnya di media atau ada yang bilang “jenius” misalnya. Ya gue ga percaya itu. Gila deh kalau gue mulai percaya kata orang tentang gue. Itu bakal ngerusak diri gue. Gue bilang ke anak-anak meskipun lagi tinggi lo bangga boleh, respect itu lo nikmatin. Apresiasi orang. Tapi lo harus ada filter lah kalau ada yang bilang lo keren banget nih, albumnya brilian. Gimana ya kaya balance lah antara lo percaya musik lo bagus tapi tetap humble. Kalau lo ga menganggap musik lo bagus engga ga lo buat kan? Istilahnya kaya percaya nggak percaya sih. Jangan sampai kita kaya yang “anjing emang musik gue hebat, SC hebat”. Banyak yang memuji “The Osaka Journals” dan “Manimal”, sampai ada yang bilang “The Osaka Journals” top 10 album indonesia. Rusak lah gue kalau gue percaya sama itu, karena begitu ada kritik lo akan denial “engga, gue jenius, gue brilian!”.  Lo harus ada visi jelas tentang diri lo, kelebihan dan kekurangan lo.


https://sajamacut.bandcamp.com/
https://strangemountainmusic.bandcamp.com/
https://romancatholicskulls.bandcamp.com/music
https://marcelthee.bandcamp.com/
https://theknifeclub.bandcamp.com/releases
https://thehouseoffaithandmirrors.bandcamp.com/releases
https://orangecliffrecords.bandcamp.com/track/let-the-midnight-come


Words & interview by Aldy Kusumah

Photos from Marcel archives