Masakre adalah salah satu band metal lokal yang membuat musik metal agresif dengan ramuan primitif d-beat, crust, death metal dan hardcore punk pada umumnya. Dengan line-up solid dari para anggota (dan eks-member) dari Ghaust, Kelelawar Malam, Grave Dancers, Engraved dan Flare Up, tentunya band yang terbentuk di tahun 2016 ini layak diperhitungkan. Dengan tema-tema lirik sosial-politik dan musik metal straight-forward yang solid, Masakre bahkan sudah merilis EP nya di label-label luar negri. Mari berbincang dengan Dirga (Vokal), Ipul (Drum), Uri (Gitar) dan Dimas (Bass) mengenai cover art album-album favorit mereka, pengaruh band-band Jepang pada musik Masakre dan preferensi mereka untuk membuat album ketimbang tampil secara live…

“Dalam kondisi normal saja kami mungkin satu band yang cukup jarang main live apalagi di kondisi pandemi seperti ini”


Halo Masakre! Sudah sampai mana proses rilisan selanjutnya yang bertajuk “Morbid Extinction”?
Ipul: Semua kebutuhan untuk rilisan EP terbaru kami sudah selesai dan sudah kami kirimkan ke Pulverised Records, label yang akan merilisnya sejak awal tahun 2021, tapi kendala antrian di tempat produksi vinyl membuatnya jadi terlambat sampai saat ini, semoga semuanya akan selesai akhir tahun ini. 
 
Dimas: Semoga bisa beres secepatnya. 
 
Uri: PRAISE THE SUN!
 
Bagaimana proses dan ceritanya “Crawling to Perdition” EP bisa dirilis beberapa label luar negri? Bagaimana respons publik terhadap EP ini?
Ipul: “Crawling to Perdition” EP dirilis oleh teman-teman baik kami di luar negeri. Kami sudah berkorespondensi dengan mereka sejak lama, bertukar informasi, melakukan records trading, membantu mendistribusikan rilisan-rilisan mereka ke Indonesia, dan juga membantu band-band yang mereka rilis ketika datang ke Jakarta. Karena koneksi itu akhirnya kami mendapat kesempatan untuk dirilis dan didistribusikan oleh mereka.
 
Responnya cukup baik, kami sempat melakukan tur kecil di Malaysia dan Singapura selepas rilis Crawling to perdition. Rilisan 7” dan kaset kami pun terdistribusikan dengan baik, bahkan di beberapa tempat sold out tak lama dari waktu rilis.
 
 
Kalian menyebutkan beberapa referensi seperti Bolt Thrower, Framtid, Life, Cianide, Repulsion dan Anatomia. Top 5 album tiap personil yang membuat kalian jatuh cinta pada crust, D-beat dan metal pada umumnya?
 Dirga:
1. Bolt Thrower - For Victory 
Band metal yang mempunyai riff yang ciri khas tersendiri dan kental dengan attitude punk.
2. Amebix -  Arise 
Termasuk album yang unik pada era nya. Mencampur unsur punk, metal dan elemen style seperti killing joke ke dalam satu wadah.
3. Slayer-  Reign in Blood 
Album yang tidak pernah bosan setiap kali diputar dari lagu pertama hingga lagu terakhir, diramu dengan kadar agresifitas yang pas, menjadi sebuah album mandatory untuk musik cadas secara umum.
4. Framtid- Under The Ashes
Album yang pertama kali membuat saya jatuh cinta dengan skena hardcore jepang.
5. Blasphemy - Fallen Angel of Doom / Conqueror - Warcult Supremacy 
Susah memisahkan kedua album ini, seperti satu kesatuan, 
merupakan album black metal terbaik dengan agresifitas yang brutal.
 
Uri:
1. Corrupted - Paso Inferior
2. Bolt Thrower - The IVth Crusade
3. Autopsy - Mental Funeral
4. Disrupt - Unrest
5. Voivod - killing technology
 
Dimas:
1. Napalm Death - Scum
2. Disrupt - Unrest
3. Disaster - War Cry
4. Dystopia - Dystopia
5. Assuck - Anticapital

Ipul: 
1. Sacrilege - Behind The Realms of Madness 
UK metal punk legend, karya awal mereka ini membuat saya tidak ragu untuk memulai main drum dengan skill terbatas.
2. Svart Parad - Myteri
Band ini mempunyai style vocal yang cukup berbeda dengan tipikal d-beat pada umumnya.
3. Repulsion - Horrified 
Intense dan bersemangat.
4. Gloom - Recommendation of perdition 
Raw noise as hell.
5. Autopsy - Mental Funeral 
Perpaduan tempo mereka sangat menarik, salah satu acuan saya ketika bermain untuk Masakre.
 
Mendengar EP 6 lagu kalian,  sepertinya banyak influence band-band Jepang juga ya yang mempengaruhi palet warna musik Masakre? Bisa elaborasi sedikit?
Uri: Kami memang banyak mendengarkan dan terinspirasi dari band-band Jepang macam Gauze, SOB, Framtid sampai Corrupted. Ketika membuat materi lagu, Influence band-band Jepang ini akan selalu masuk dalam musik Masakre baik sadar maupun tidak sadar.
 


Ceritakan tentang proses rekaman EP “Crawling to Perdition” dan proses rekaman rilisan kalian yang berikutnya..
Dimas: ”Crawling to Perdition” dan “Morbid Extinction” kami rekam di studio yang sama yaitu Syaelendra Studio di Rossi Musik, Jakarta. Prosesnya cukup cepat, kami menghabiskan 2 shift untuk tiap EP. Selain materi yang kami buat tidak rumit, kami juga selalu latihan sampai matang sebelum akhirnya mulai merekam materinya di studio, Itu salah satu cara kami untuk menghindari over budget agar bisa memenuhi biaya produksi lainnya.

Lirik-lirik kalian yang bertema sosial-politik seperti band-band death metal dan crust tentunya akan menarik untuk dibahas. Siapa yang biasanya menulis lirik? Inspirasi apa yang kalian dapat dari observasi situasi politik di Indonesia?
Dirga: Lirik Masakre memang banyak terinspirasi dari kematian dan keadaan sosial yang terjadi di sekitar kami. Terutama sistem pemerintahan yang semakin totalitarian, perampasan sumber daya alam / hak asasi manusia dan penetrasi doktrin agama yang dilakukan secara paksa tentunya.
 
 
Cover art EP kalian sangat menarik. Siapa yang membuat ilustrasi dan design-nya? Apa ada ilustrator / desainer yang kalian ingin ajak kerjasama untuk rilisan-rilisan selanjutnya?
Ipul: Untuk cover art kami selalu dibantu oleh MFAXII. Seorang illustrator yang sangat piawai dan kami selalu puas dengan karya-karya yang dia buat untuk Masakre. Saat ini kami sedang dalam proses membuat sebuah projek kolaborasi yang mungkin akan rilis dalam waktu dekat.
 
Untuk EP Morbid Extinction selain MFAXII, kami juga dibantu oleh Sarcofago, illustrator asal Bandung yang juga mempunyai karya-karya yang brutal dan Yossie Thrash Graphic, seorang ilustrator asal Jepang yang kerap membuat ilustrasi untuk beberapa band Jepang seperti S.O.B, Gloom, Tragedy, Ferocious X dan banyak lagi. Beberapa ilustrator yang juga sudah membantu kami adalah Tremor, Necfrost, dan Nassan 072, sebuah kehormatan buat kami bisa bekerja sama dengan mereka semua.
 
Untuk layout desain kami biasa mengerjakan sendiri, kebetulan beberapa orang member kami bekerja sebagai desainer grafis dan itu cukup membantu.


 
5 Cover art album metal favorit masing-masing personil apa saja?
Uri:
Slayer - South of heaven
Aldebaran - Buried Beneath Aeons
Voivod - Rrröööaaarrr
Napalm Death - Scum
Teitanblood - Seven Chalices
 
Dirga:
1. Mercyful Fate - Melissa
2. Blasphemy - Fallen Angel of Doom
3. Vomitchapel- Damnatio ad Bestias
4. Wrathprayer - Sun of Moloch
5. Slayer - South of Heaven
 
Dimas:
Megadeth - Peace Sells..but Who’s Buying?
Cannibal Corpse - Butchered at Birth
Sepultura - Beneath The Remains
Slayer - Reign in Blood
Brutal Truth - Extreme Conditions Demand Extreme Responses
 
Ipul:
1. Invidious – In death
2. S.O.B (di Napalm Death/S.O.B Split)
3. G.I.S.M - Detestation
4. Black Curse – Endless Wound
5. Repulsion - Slaughter of the innocent
 
Sebagai orang-orang yang cukup lama berada di scene, sulitkah untuk beradaptasi untuk merilis musik di era Spotify dan panggung virtual seperti sekarang?
Ipul: Kami terus belajar dari teman-teman baru dan juga lama yang selalu konsisten ada di scene ini tentang berbagai macam hal-hal baru, banyak ide-ide menarik yang bisa dijadikan alternatif untuk menyebarkan musik dan melakukan promosi saat ini, dan semuanya sangat bagus. Tapi kami juga punya ide/konsep yang kami sepakati ketika membuat band ini.
 


Spotify menurut saya adalah sarana yang baik untuk bisa menyebarkan musik dengan cepat. Untuk panggung virtual, sebetulnya dalam kondisi normal saja kami mungkin satu band yang cukup jarang main live apalagi di kondisi pandemi seperti ini, beberapa dari kami memang sangat sibuk dengan aktifitas kerja dan keluarga. Jadi untuk saat ini kami lebih tertarik untuk melakukan proses membuat karya dan produksi rekaman dibanding live.
 
5 album independen lokal klasik favorit kalian?
Dirga:
1. Forgotten - Obsesi Mati. 
Menjadi suatu katarsis saat pertama kali mendengarkan album ini ketika berumur 14 tahun tumbuh di lingkungan beragama yang konservatif.
2. Peace or Annihilation - Another Dis-nightmare Still Continue. 
Termasuk album yang membuat saya pertamakali jatuh cinta dengan d-beat,“kami dengan apa adanya” tetap menjadi anthem di toplist personal saya.
3. Domestik Doktrin - Manufakturing Karma
Tema lagu yang cerdas dipadukan dengan sample-sample yang menarik.
4. Allnationdeath - Neo Imperialism. Singkat dan padat!
5. Extreme Decay - Sampah Dunia Ketiga. Album grind terbaik pada era nya.
 
Uri:
1. Homicide - Godzkilla Necronometry EP
2. Jeruji - Lawan
3. Seringai - high octane rock EP
4. Eternal Madness - Bongkar batas
5. Zoo - Trilogi Peradaban
 
Ipul: 
1. Thinking Straight - Positive Crew
Era dimana saya mulai datang ke show hardcore dan menjadi straight edge.
2. Domestik Doktrin - Manufakturing Karma(dan semua band di Bandung lautan hardcore kompilasi). 
Saya besar di mana thrash core mulai mendominasi skena dan Domestik Doktrin menjadi jembatan untuk kuping saya bisa mendengar berbagai jenis musik ekstrim lainnya.
3. Mortal Kombat – Hello?! Fukk You! Thank You!
Band ini mempunyai karakter yang berbeda di era bandana thrash merebak disini, saya mulai mendengarkan band-band seperti gauze, systematic death, dan berbagai varian Japanese hardcore lainnya berkat mereka.
4. Hellowar - S/T
Salah satu band yang menjadi penunjuk jalan untuk saya mulai mendengarkan band-band metal punk dan berbagai macam variannya, awalnya saya berpikir itu dua hal yang tak mungkin bisa bersatu haha.
5. Puppen - MK II
Salah satu kaset yang berusaha saya beli diawal saya mengenal skena underground lokal, saya ingat waktu itu saya harus menabung untuk bisa pesan kaset ini dan kaos Puppen, mengirim uang lewat amplop yang dilapisi kertas karbon untuk mengelabui pihak pos. Sialnya barangnya tidak dikirim-kirim sampai waktu yang cukup lama, sampai akhirnya saya meminta bapak saya menelpon distronya untuk menanyakan barangnya, dan tak beberapa lama dari kejadian itu saya menerima barangnya.
 
Dimas:
1. Extreme Decay - Sampah Dunia Ketiga Pertama kali datang ke gigs di kota kelahiran saya, Malang. Saya langsung suka sama band ini, karena menurut saya sangat beda dari band yang lain, lalu saya mencari rilisan album mereka dan mendapatkan album ini.
2. Savor Of Filth - Bersatu 
Salah satu band hardcore yang membawa warna baru dikala itu jenuh-jenuhnya dengerin metal hardcore.
3. Bunga Hitam - Untukmu 
Lagu-lagunya dibuat ngamen era awal 2000an.
4. Breath Of Despair - Revive From Bridle Band hardcore pertama yang saya dengar di  Malang, sampe sekarang mereka adalah legenda hidup skena hardcore kota Malang.
5. No Man’s Land - Grow Away From The Society 
Ketika masih SMP kelas satu, saya dateng ke distro di Malang, dan tanya ke yang jaga, “Mas band underground yang cocok buat saya dengerin apa ya?" tiba-tiba yang jaga kasih saya album ini, sampe sekarang masih tersimpan album ini.


Interview by Aldy Kusumah
Photos by Rewinda Omar