Simak perbincangan kami dengan The Throne Room, sebuah toko yang menjual music related stuff dari vinyl, alat-alat musik (efek gitar, bass, gitar, aksesoris, etc) sampai ampli dan collectible items/toys. Didirikan oleh Deathless Ramz, yang juga merupakan seorang luthier atau artisan yang membuat gitar/bass dengan Doomwood Guitars. Dia juga tergabung dalam beberapa proyek musik seperti moniker solo doom/drone/noise nya Deathless, atau moniker techno/ambient/elektroniknya Profound Grief. Selain disibukkan dengan proyek musik alt/rocknya Nearcrush yang akan merilis debut albumnya via Disaster Records, Deathless Ramz juga memiliki future plans untuk mengembangkan The Throne Room menjadi sebuah fasilitas recording studio dan platform untuk para musisi/produser musik. 



Bagaimana awalnya memutuskan membuat Throne Room? Konsep awalnya seperti apa?

Berawal di tahun 2000an dari kebiasaan gw hunting dan mengkoleksi barang-barang, yang sebagian besar merupakan music related stuff, mulai dari rilisan fisik, merch band, sampe alat musik dan alat recording, selain itu ada juga toys dan collectible items lainnya. Nama The Throne Room sendiri gw pake mulai sekitar tahun 2008-2009 ketika gw mulai posting ke socmed Facebook pada saat itu dan ketika instagram mulai populer, gw bikin akun The Throne Room dan lebih sering posting di instagram. Konsepnya awalnya buat archive barang koleksi gw tapi ternyata mulai berkembang ke hal lain.



Apakah ada kesulitan dalam memanage banyaknya stock seperti efek gitar, ampli, parts dan lain-lain? Apa ada list inventory dan rutin di maintain atau pada awalnya sambil jalan saja?

Kalo kesulitan sih hampir sama kaya gear hoarder lainnya sih, masalahnya di space aja, kadang ada keinginan punya gudang besar buat jadi storage room dan ada studio space, kaya studionya Metallica atau Foo Fighters gitu oke sih kayanya hehe. Gw terbiasa mendata barang-barang yang gw dapet ke google sheets langsung, jadi semua data inventory lumayan lengkap mulai dari informasi data, sampe tanggal gw dapetin dan juga ketika gw jual.





Apa kendala dalam bidang bisnis jual/beli di The Throne Room?

Kendala nya sih klo ada yang rusak dan susah dibenerinnya atau susah dapet part penggantinya, alat tersebut jadi ga berfungsi. Selain itu paling kalo gw dapet barang yang sangat gw pengenin tapi terkendala shipping yang mahal. Pernah nih gw dapet ampli head dan cabinet yang gw mau sejak lama tapi ternyata biaya shipping nya mahal, karena gw pengen banget, gw ambil resikonya yaitu biaya shipping lebih mahal dari harga beli barangnya. Selain itu kalo gw terpaksa jual barang favorit, suka berat hati, karena effort pas dapetinnya susah ato barang-barang yang ada historynya, kadang suka nyesel aja hehe.



Top 5 pedal efek gitar favorit dan top 5 wishlist yang belum kesampaian?

Top 5 efek favorit:
1. Roland Space Echo RE-201
2. Zvex Fuzz Factory Hand painted
3. Ehx Big Muff 90’s reissue
4. VFE Alpha Dog
5. Eventide H9 Max

Top 5 efek yang belum kesampaian:
1. Maestro Echoplex EP-3
2. Klon Centaur
3. Vintage Deluxe Big Muff
4. Moogerfooger Analog Delay
5. Eventide H9000 Rack

Lo juga berprofesi sebagai guitar builder dan mempunyai brand gitar Doomwood. Ceritakan sedikit tentang awal mula Doomwood dan bagaimana rencana berikutnya…


Iya dari beberapa koleksi ampli vintage dan gitar butik yang gw punya gw terinspirasi buat bikin Doomwood, awalnya gw pengen bikin head amp dan custom cabinet, tapi biaya R&D-nya (research & development) ternyata lumayan gede dan projectnya harus tertunda, kemudian gw beralih ke custom guitars, karena kebetulan gw ada basic bisa ngedesain dan gw punya temen yang jual part gitar premium dan pickups butik, dari situ gw coba bikin prototype dan minta tolong temen-temen gw yang gitaris buat cobain manggung, ternyata banyak yang suka. Akhirnya beberapa gitar prototype tersebut ada yang menjadi andalan mereka di panggung dan beberapa akhirnya dibeli juga oleh mereka. Selain itu banyak juga yang akhirnya inquiries untuk order, puncaknya ketika gw di interview oleh Reverb.com, orderan sampe flooding, dan kita sebagai builder kecil cukup overwhelmed. Bahkan suatu hari pabrik brand gitar besar sempet kontak gw dan kita beberapa kali meeting, mereka nawarin Doomwood buat produksi massal, waktu itu mereka ngajak bikin 100 ribu gitar, tapi mereka minta gw buat nurunin standard kualitas Doomwood, gw keberatan dan hal tersebut ga pernah terjadi. Setelah sempet break karena pandemi, Kedepannya Doomwood bakalan mulai produksi small batch buat series guitar dan bass, kita juga bakalan bikin efek pedal series, dan aksesoris yang masih seputaran gitar dan pedal efek seperti guitar case, gigbag, pedalboard, strap, dan lainnya.  Oh iya, Doomwood juga mempunyai divisi record label yang baru-baru ini merilis Sacred Witch, sebuah band baru yang terdiri dari member Ssslothh, Daud, dan ALICE.

 

Siapa saja yang di support oleh Doomwood selama ini? Kenapa memilih orang-orang tersebut untuk merepresentasikan Doomwood?


Doomwood support beberapa gitaris yang sebagian besar merupakan teman baik gw, ada Andika Surya dari ALICE dan Collapse, Angga (Taring & Ssslothh), Alyuadi dari Heals, Tiong dari Tools of the trade & Code Error, Haikal Azizi (Sigmun & Bin Idris), Jay dari Detention, Pandu Morfem & Zzuf, Raja Humuntar (Revenge & Amerta), Achack dari Sang Matahari Tidur Mati, dan nama lain seperti Nicky dari Nothing, Ayi Peewee Gaskins, Angee Grrrl Gang, Robi Navicula dan banyak lainnya yang udah mencoba Doomwood dalam panggung-panggung live mereka. Alasannya adalah karena kebetulan mereka berteman baik dengan gw dan juga gw butuh feedback dari mereka untuk kepentingan R&D Doomwood.



Sekarang sepertinya sedang menggeluti modular sebagai hobby/racun baru. Apa alasan awal ketertarikan lo terhadap modular?


Haha iya, gw kadang perform dan membuat album, gw juga saat ini aktif sebagai sound designer untuk beberapa project termasuk scoring untuk games dan film. Dulu basic system/setup gw kebutulan adalah theremin, desktop synth, drum machine dan sekumpulan efek, yang setupnya selalu bertambah dan berubah seiring waktu dan progresi musik yang gw mainkan, terkadang setupnya melibatkan terlalu banyak gear. Sekitar tahun 2015 gw mulai beralih ke format semi modular dan gw mulai planning untuk pindah ke format Eurorack/Modular Synth, gw melihat peluang untuk bisa bermigrasi ke full eurorack karena bisa memangkas size ke ukuran yang lebih kecil dengan fungsi yang sama, bahkan lebih banyak. Pada tahun 2019 gw menyelesaikan system eurorack dan mulai perform bahkan showcase dalam rangka peluncuran album gw kemaren. Bahkan dengan sistem tersebut gw lebih aktif dalam berkarya dan tampil live, selain itu komunitas Indomodular sangat supportif dalam berbagi pengetahuan dan juga sukses dalam meracuni gear seputar eurorack modular.



Lo juga cukup sibuk dengan proyek-proyek bermusik. Sebutkan dan ceritakan band-band dimana lo terlibat didalamnya.. 


Oh iya kebetulan gw juga merupakan performing artist di ranah drone/ambient dan noise, dengan moniker Deathless yang tahun ini akan merilis split album bersama modular artist bernama Baseput yang akan dirilis oleh Blank Orb. Beberapa tahun terakhir juga gw tertarik dengan music electronic terutama techno dan mulai membuat komposisi dengan moniker Profound Grief yang baru saja merilis debut single “Budh Perangai” di kompilasi V/A “Arsip 001” bersama dengan para produser/DJ dari beberapa kota di Indonesia yang dirilis oleh Non Archive sebuah label asal Bali. Gw juga saat ini tergabung di Nearcrush bersama temen gw Aldy (ex-gitaris Jolly Jumper) dan vokalis/gitaris Kevin Sidartha, sebuah unit 90’s alt-rock/indie-rock yang berawal dari kegemaran kita atas lagu-lagu era tersebut yang berkembang menjadi lagu-lagu yang kita tulis bersama dan sudah merilis 3 buah single dalam bentuk digital dan sebuah cassingles, Nearcrush rencananya pertengahan tahun ini akan merilis debut album oleh Disaster Records. Sementara band Sludge/Doom gw Vrosk, saat masih dalam dalam kondisi defunct karena para membernya yang tinggal di kota yang berbeda, walaupun terakhir kita punya beberapa materi baru.


Terakhir, ada rencana apa saja untuk mengembangkan Throne Room?


Rencananya The Throne Room akan membuka offline store dan jasa service musical instruments terutama gitar dan amplifier dan juga akan berkembang menjadi sebuah fasilitas recording studio dan platform untuk mendukung para produser muda dan band-band dari Bandung dan kota lainnya.


Interview Team Jeurnals
Photos from The Throne Room archives