Ini adalah beberapa item pilihan team Jeurnals yang mungkin bisa menjadi referensi buyer’s guide kamu. Dari buku Bobby Hundreds yang sangat inspiratif, pedal efek favorit Billy Corgan, sweatsuit pink dari Based Club, kaos homage Scorsese dari Bastards of Young sampai botol minum dan rilisan fisik pilihan kami. Here goes...




Jika kamu menyukai sound fuzz di album Siamese Dream (1993) milik The Smashing Pumpkins dan penasaran efek apa yang digunakan Billy Corgan dan James Iha, ya Big Muff Pi Op Amp ini adalah jawabannya. Tentu saja yang digunakan Billy Corgan cs adalah versi asli Big Muff Pi Op Amp ikonik yang dirilis pada tahun 1978an. Karena harga Big Muff klasik tersebut sudah tidak masuk akal di marketplace alat musik, maka Electro Harmonix (Mike Matthews) memutuskan untuk membuat reissuenya dengan design lebih compact (pedalboard friendly), warna orange Pumpkins dan tentunya tetap memiliki fitur-fitur suara yang sama. Sirkuit baru EHX Op-Amp Big Muff Pi yang kadang disebut dengan IC atau Big Muff V4 ini sudah dibuat ulang seperti versi originalnya, bahkan ditambah beberapa upgrade yang praktis seperti chassis diecast dan switching true-bypass. Bahkan Billy Corgan pun berkomentar di situs resmi EHX “The magic’s still in the box, i can still get what I’m looking for!!”. Dengan lebih bergantung pada op-amps dibanding transistor dan 3 fase gain (fuzz/distortion/sustainer), Big Muff ini memiliki signature sound yang khas. Kamu bisa mendapatkan sustain yang panjang ketika memainkan lead Mayonaise, sound crunch, distorsi dengan wall-of-sound, sampai fuzz berat dengan humming yang khas. Sekarang kalian bisa memainkan Cherub Rock dengan cukup membeli pedal affordable ini.  


Wide Mouth 1 liter water bottle (Nalgene) - Rp. 175,000 / $ 11,99




Mungkin predikat botol minum paling populer layak dimiliki oleh Nalgene wide mouth yang berkapasitas 1 liter atau 32oz ini. Produk affordable ini juga terbuat dari plastik Tritan yang kuat dan juga tahan dalam berbagai kondisi. Entah itu untuk mendaki gunung, liburan ke pantai, olahraga atau ke kantor. Tentunya botol ini juga bebas BPA/BPS sehingga kamu bisa meminum air minum dengan aman dan nyaman. Dibuat melalui riset mendalam oleh para ahli, botol ini bebas bocor, tidak berbau dan konon tahan banting. Diameter wide mouthnya membuat botol ini gampang dibersihkan dan kamu juga mempunyai opsi untuk menaruh potongan buah atau es batu didalamnya. Dengan design diameter yang sangat pas ditangan tapi tetap mampu membawa air 1 liter. Nalgene juga banyak menggunakan kombinasi warna menarik di setiap produknya. Dengan janji “Built to last” dan “Fewer emissions” dari brand yang sudah berdiri selama 70 tahunan ini, produk ini adalah produk yang sustainable (beberapa botol Nalgene bahkan dibuat dari plastik hasil recycle), kuat dan terbaik di kelasnya. Nalgene juga sudah berkolaborasi dengan berbagai brand dan band seperti Supreme, Glossier, Better Gift Shop, NTS Radio dan Tame Impala. Remember kids, drink 2 litre a day!





Salah satu artikel Based Club yang cukup menarik perhatian, Tablet Pink Sweatsuit ini adalah satu set sweatsuit yang mungkin cocok dipakai sebagai lounge-wear. Dengan berbahan 100% katun baby terry dengan gramasi 255 gsm yang yang tidak terlalu tebal dan nyaman untuk dipakai. Set ini juga bisa dipakai untuk aktivitas olahraga ringan seperti jogging, karena memiliki elastisitas pada bahannya. Sweatshirt ini juga memiliki fitur drawstring untuk yang bisa dikencangkan dan diikat. Dengan design pink yang eyecatching, logo homage/parody Based Club dan bahan yang berkualitas, Tablet Pink Sweatsuit set ini cocok untuk digunakan dalam berbagai kesempatan dan aktivitas.




Salah satu artikel T-shirt dari koleksi terbaru Bastards of Young yang dinamakan “Scorsese” ini tentunya akan memuaskan dahaga para penggemar film gangster Italia. Design homage dan tribute kepada sutradara legendaris Martin Scorsese ini diparodikan dengan fonts band hard-rock asal Jerman Scorpions yang typeface nya sudah banyak dikenal. Dengan sablon raster yang colourful di bahan hitam, tentunya design ini sangat stand-out. Bahan katun 240gsm yang nyaman dan sablon cat plastisol yang slick tentunya membuat item ini menjadi koleksi wajib bagi para movie-buff yang mengidolakan karya-karya Martin Scorsese dari ‘Taxi Driver (1976)’, ‘Goodfellas (1990)’, sampai ‘The Irishman (2019)’. Sambil menunggu rilisnya film terbaru Scorsese yang berjudul ‘Killers of the Flower Moon’, let’s give Scorsese a warm welcome by wearing this shirt.

Vinyl 12” Yanti Bersaudara (Lamunai Records) - Rp. 400,000




Lupakanlah unit-unit new psychedelia kekinian seperti Khruangbin, Tame Impala, King Gizzard & The Lizard Wizard atau Hiatus Kaiyote. Karena Yanti Bersaudara sudah memasukan unsur psych-pop kedalam aransmen musik Sundanya sejak 1970an. Yep, you heard it right. Ini adalah psych-pop yang lahir dari tanah Sunda. Lamunai Records dengan berani merilis vinyl band ‘70an yang cukup obscure ini, dan ternyata reissue album klasik Yanti Sisters ini diterima antusias oleh para vinyl junkie dan music enthusiast di seluruh dunia. 





Dalam buku terbitan Pustaka Catut ini, Bima Satria Putra sebagai penulis pada dasarnya ingin membahas tesis utamanya yang sederhana: bahwa yang diimpor dan asing itu bukanlah anarkisme, melainkan negara. Dalam buku setebal 482 halaman ini, Bima Satria Putra membahas akan buramnya historiografi nusantara yang berpusat dan terpaku kepada sejarah para penguasa dan penakluk. Dengan pendekatan penulis yang berbeda, Dayak Mardaheka menggunakan persepsi sudut pandang mereka yang dikuasai dan dikalahkan. Dalam buku ini, penulis menunjukkan bahwa pedalaman Kalimantan telah menjadi tempat pelarian suku-suku anarkis yang selama ribuan tahun telah menangkis pencaplokan negara dan bahkan menciptakan mekanisme sosial yang mencegah negara dapat muncul dari dalam masyarakat mereka sendiri. Menurut penulis, identitas etnis Dayak sepanjang sejarah telah ditandai dengan ketidakpatuhan terhadap otoritas. Mereka adalah masyarakat yang relatif egalitarian dan mampu mempertahankan otonomi dari berbagai negara, dan mampu menjaga masyarakat meski tanpa hukum, polisi dan penjara. Di buku ini juga diceritakan bahwa etnis Dayak bisa berkerjasama tanpa uang dan pasar; Cetakan pertama buku ini terbit pada bulan Juni 2021 kemarin dan sudah tersedia di berbagai jalur distribusi. Versi digital PDF dapat diunduh gratis dari link di bio @pustakacatut 






Ini adalah cerita mengenai sejarah brand The Hundreds yang ikonik dengan logo Adam Bomb-nya. Ditulis oleh sang founder, Bobby Kim atau yang lebih dikenal dengan moniker Bobby Hundreds. Versi hardcover buku ini menggunakan cover art homage terhadap novel Franny & Zooey-nya J.D. Salinger, yang tentunya semakin mempercantik design buku ini untuk ditaruh di rak bukumu. Di buku ini Bobby Kim menceritakan sepak terjangnya membangun brand The Hundreds dari nol. Bobby tumbuh besar sebagai anak minoritas keturunan Asia di komunitas yang mayoritas kulit putih dan Amerika latin. Kita bisa melihat aspirasi artistik Bobby dan juga beberapa tips untuk mengembangkan brand kamu, yang tentunya sudah dipraktekkan Bobby untuk membuat The Hundreds sebagai salah satu nama internasional dalam kultur streetwear. Kultur streetwear eksis di suatu ruang dimana seorang designer bisa bekerja sama berbarengan dengan Nike, Louis Vuitton dan perusahaan skateboard. Dengan maraknya kultur streetwear dimana kamu bisa melihat para rapper sampai model menggunakan hoodie, T-shirt dan sepatu brand-brand independen, para brand heritage OG seperti The Hundreds adalah salah satu yang konsisten dan survive dari awal berdiri sampai sekarang. Disini Bobby mengingatkan kita bahwa The Hundreds dibuat oleh para “outsiders”, dan disitulah cerita kultur streetwear bermula. This is Not a T-Shirt juga mengingatkan kita bahwa The Hundreds bukanlah sebuah cerita sukses belaka, tetapi ini mengenai membangun komunitas.





Menurut Domestik di caption produk ini; “Nenek moyang kita berjuang keras untuk kemerdekaan — kita harus membuat pilihan yang baik dan bertanggung jawab”. 50% dari hasil penjualan T-Shirt ini akan disumbangkan ke teman-teman kita yang membutuhkan di Papua melalui organisasi non-profit @elegeinone dan Benih Baik, dengan harapan dapat menghadirkan lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan pendidikan di provinsi ini. Dunia kita berubah dengan cepat setiap detik sehingga kita harus belajar beradaptasi sendiri atau resilient untuk bertahan hidup. Baik atau buruk, aman atau bahaya, utopia atau distopia — inilah keadaan yang terus-menerus melingkupi konsep kemandirian di banyak masyarakat. Konsep-konsep dan tema inilah yang ingin diangkat Ryan Adyputra dan Domestik pada artikel T-shirt ini. T-shirt dengan warna print yang eye-catching ini terbuat dari 6.75 oz Ring-spun Cotton, detailing double needle di sleeves, dan sudah preshrunk untuk meminimalisir penyusutan. Domestik juga mempersembahkan mixtape lagu-lagu Indonesia yang spesial dari @6uling untuk memperkuat roots kalian. Segera cek https://soundcloud.com/6uling untuk menikmati track-track yang eklektik dari: Harry Roesli, Senyawa sampai Homicide. 


Words & curated by team JEURNALS
Layout by Prita