Almarhum Pak Supomo (Fu He Po) adalah seorang pensiunan pabrik garmen kelahiran 1955 yang hobi menggambar dan belajar menggambar secara otodidak. Sepertinya seorang pelukis berumur 66 tahun adalah hal terakhir yang kamu pikirkan jika kamu melihat ilustrasi merchandise T-Shirt band Gabber Modus Operandi atau Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Interview ini dilakukan pada bulan Juni, sebulan sebelum kepergian beliau pada 25 July 2021. Mari simak interview terakhir kita dengan Pak Supomo mengenai kesibukannya selama pandemi, kekagumannya terhadap Basuki Abdullah dan Creedence Clearwater Revival…


 

Halo Pak Supomo. Apa kabar? Sibuk apa saja akhir-akhir ini?

Hello.. Baik. Gimana disana? Selama pandemi ini sibuk menggambar saja, kolaborasi sama seniman-seniman muda, sama brand-brand lokal yang keren-keren. Selain menggambar, saya mengisi waktu dengan membaca buku dan mendengarkan musik dari kaset pita dan juga dari youtube. Setiap pagi saya juga berolahraga, senam di taman dekat rumah.



Bagaimana awal mula menemukan passion untuk menggambar? Sempat berhenti berkarya berapa lama? 

Saya senang menggambar sebagai sarana untuk relaksasi saja setiap hari sepulang dari kerja. Sejak kecil tahun 1960 an sampai sekarang saya setiap hari selalu menggambar di kertas.



Mulai kapan menggambar dengan style yang digunakan Seni Kanji sekarang ini? Kenapa memilih hitam pada ilustrasi, kanji merah dan latin biru sebagai karakter?

Saya menggambar ilustrasi sejak kecil, tahun 1960 an.. Sebagai hobi aja sih.. Ga pernah pede sama karya sendiri karena kalo ngeliat karya orang lain bagus-bagus, beruntung sejak 2019 diarahkan oleh anak saya (Yulius Iskandar) untuk menggabungkan ilustrasi tadi dengan quotes-quotes dan huruf mandarin, akhirnya banyak yang suka. Pemilihan warna itu juga terjadi secara spontan saja yang akhirnya saya sendiri merasa nyaman dengan kombinasi warna biru-merah dan hitam tersebut hingga akhirnya terus menggunakan ketiga warna itu sebagai ciri khas warna Seni Kanji hingga saat ini.



Tema-tema apa saja yang diangkat di ilustrasi dan caption-caption Seni Kanji?

Rata-rata saya menggambar tema yang terjadi sehari-hari saja di kehidupan, baik itu di dunia nyata maupun maya (online). Untuk tema besar setiap karya Seni Kanji biasanya awalnya datang dari anak saya, Yulius, lalu kita diskusikan dan brainstorming bersama-sama.



Sudah berkolaborasi dan mengerjakan komisi untuk siapa saja?

Kalo untuk project music: Sir Dandy, Gabber Modus Operandi, The Panturas, Muchos Libre, Iwan Fals, dll. Untuk brand: SSST, Vearst, Berak, Sepatu Compass, Lingkar Ganja Nusantara, Kamengski, Toidiholic, dll. 



Yang paling banyak untuk coffee shop / kedai bakmie / resto, diantaranya: Hagia Terra, Kopi Pasar Lama, Satu Pintu, Bakmie Tjo Kin, Mee Pandjang Umur, Kedai Juru, Diantara Kopi, dll

 

Pelukis atau seniman favorit Pak Supomo siapa saja? 

Basuki Abdullah, Chu Sin, Nyoman Nuarta.


Apa tips-tips Pak Supomo untuk anak-anak muda yang baru memulai berkarya? 

Kalau kamu suka menggambar, konsisten aja terus, nanti juga lama-lama ketemu karakternya.



Bagaimana pendapat Pak Supomo mengenai semakin buruknya pandemi corona ini? 

Ya udah terima aja, tapi tetap patuh pada protokol kesehatan ya. Makan dan istirahat cukup, jaga imun tubuh dengan tetap berbahagia melakukan hal yang kamu suka.



Apakah ada pesan bijak bagi generasi millenial?

Jaga kesehatan supaya badan tetap bugar hingga tua nanti. Rajin berinvestasi untuk masa depan. Bergaul seluas-luasnya dengan berbagai kalangan.



Pertanyaan terakhir, album-album favorit pak Supomo sejak muda dan yang baru-baru apa saja?

Saya mendengarkan CCR (Creedence Clearwater Revival), Tom Jones, Pat Boone, Victor Wood, Edi Peregrina, Engelbert Humperdinck, Cliff Richard, Conny Francis, Conway Twitty, The Beatles, Tety Kady, Koes Plus, Erni Djohan, Titiek Sandora & Muchsin Alatas.


Words & interview by Aldy Kusumah
Photos Lisdianto @brez84
Layout by Prita